Sikap Seorang Muslim Terhadap Harta

Sikap Seorang Muslim Terhadap Harta

Sikap Seorang Muslim Terhadap Harta – Topik  yang  akan  kita  bahas  pada  kesempatan kali ini adalah bagaimana sikap seorang muslim terhadap  harta.  Sesungguhnya  kita  ketahui  bahwa harta adalah suatu perkara yang dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani kehidupannya. Terkadang harta itu diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala sehingga mengantarakan  seorang  muslim  tersebut  semakin bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dan sebaliknya, sering pula harta membawa seorang muslim untuk semakin jauh dari  RabbNya.  Oleh  karenanya  perlu  untuk  kita ketahui bagaimana sikap yang benar terhadap harta.

Sikap Seorang Muslim Terhadap Harta
Sikap Seorang Muslim Terhadap Harta dan Jabatan (SalamDakwah.com)

Terdapat beberapa hal-hal yang penting terkait dengan Sikap Seorang Muslim Terhadap Harta. Di antaranya adalah,

1.Sikap Seorang Muslim Terhadap Harta – Harta secara dzat tidak dicela dan tidak dipuji

Yang perlu diketahui adalah ujian dan celaan dari harta itu kembali kepada pemilik harta tersebut, yaitu bagaimana cara dia menyikapi harta tersebut. Oleh karenanya kita dapati para Nabi dan para Rasul, di antara mereka ada yang kaya raya dan adapula yang miskin. Di antara Nabi-nabi yang kaya adalah Nabi Sulaiman dan Nabi Daud  ‘alaihimassalam. Adapun Nabi-nabi yang miskin di antaranya adalah Nabi Isa ‘alaihissalam dan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam . Jika sekiranya harta itu dipuji dzatnya, maka tentu Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan  sluruh  para  Nabi  sebagai  orang  yang kaya. Dan jika itu tercela pada dzatnya, maka pasti Allah subhanahu wa ta’alaakan menjadikan seluruh para Nabi miskin. Akan tetapi kita dapati ada sebagian nabi yang kaya dan   adapula   sebagian   nabi   yang   miskin.   Oleh karenanya ini menunjukkan bahwasanya harta tidak dicela dan dipuji pada dzatnya.

Oleh karenanya sebagaiman harta tidak dicela dan tidak   dipuji   pada   dzatnya,   maka   demikian   juga dengan kemiskinan juga tidak dicela dan tidak dipuji. Jangan sampai kemudian sebagian orang mengira bahwa miskin adalah sebuah hal yang dituntut dalam syariat atau sebaliknya bahwa miskin adalah hal yang dibenci oleh syariat. Akan tetapi celaan dan pujian itu kembali kepada orang yang menjalani kekayaan dan kemiskinan tersebut.

Oleh karenanya kita dapati dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam  tidak pernah berlindung terhadap kekayaan dan juga kemiskinan, akan tetapi Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam berlindung dari ftinah kekayaan dan kemiskinan. Di antara hadits tersebut adalah doa Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas, kepikunan,  terlilit  hutang,  dan  dari  kesalahan  dan  dari fitnah neraka serta siksa neraka, dan dari fitnah kubur dan siksa kubur dan dari buruknya fitnah kekayaan dan dari buruknya fitnah kefakiran serta fitnah Al-Masih Ad- Dajjal.” (Muttafaqqun ‘alaih)-HR. Bukhari no. 6375 dan HR. Muslim no. 589

Doa ini merupakan isyarat dari Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam bahwa pada kekayaan   ada  fitnah   dan  pada   kemiskinan   juga terdapat fitnah.

 

2. Sikap Seorang Muslim Terhadap Harta -Pujian bukan hanya pada kemiskinan, malinkan kekayaan juga dipuji

Allah subhanahu wa ta’alaberfirman di dalam Alquran,

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’ : 35)

Sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa di antara ujian yang berupa keburukan adalah ujian dengan kemiskinan, kekurangan, sakit, dan musibah; adapun ujian berupa kebaikan yaitu dengan kekayaan, kesehatan, kenikmatan, dan anugerah dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam ayat di atas, seakan-akan Allah mengabarkan bahwa  semua manusia yang hidup  akan mati,  dan sesungguhnya apa yang kita hadapai baik itu berupa kesulitan  dan  kemudahan,  kesempitan  dan kelapangan,  dan  kemiskinan  dan  kekayaan merupakan ujian yang kita akan dikembalikan kepada Allah  subhanahu wa ta’aladan  akan  dimintai   pertanggungjawaban terkait sikap kita menghadapi ujian tersebut.

Oleh karenanya Umar bin Khattab dalam sebuah pertakaannya yang indah mengatakan,

Kekayaan dan kemiskinan adalah dua tunggangan (yang pasti akan ditunggangi salah satunya –pent), dan aku tidak peduli yang mana aku tunggangi. Kemiskinan dan kekayaan hanyalah ujian dari Allah kepada hambaNya.”

Oleh karenanya pemahaman sebagian orang yang menganggap bahwasanya ujian itu hanyalah berupa kemiskinan  dan  kekayaan  bukanlah  ujian  adalah pemahaman yang keliaru. Dan dalam hal ini Allah subhanahu wa ta’ala membantah anggapan tersebut melalui firmanNya di dalam Alquran,

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya  dan  diberi-Nya  kesenangan,  maka  dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. Sekali-kali tidak (demikian).” (QS. Al-Fajr : 15-16)

Dari  sini  kemudian  kita  menyampaikan pembahasan  yang   sering  disampaikan   oleh  para ulama, yaitu manakah yang lebih utama antara orang kaya yang bersyukur dengan orang miskin yang bersabar? Kata para ulama di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa yang paling afdhal (utama) di antara   keduanya   adalah   yang   paling   bertakwa, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” (QS. Al-Hujurat : 13)

Jika  seseorang  dengan  kekayaannya  menjadi seseorang yang bersyukur, rajin beribadah kepada Allah ﷻ, maka dia telah mencapai derajat takwa yang lebih tinggi daripada seorang yang miskin bersabar, maka dia lebih utama di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Dan demikian pula sebaliknya, jika seorang yang miskin mencapai derajat takwa tertinggi dengan kesabarannya melebih daripada orang kaya yang bersyukur maka dia lebih utama di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Akan tetapi tatkala kita disuruh memilih menjadi orang kaya yang bersyukur atau miskin yang bersabar, maka  pasti  kita  akan  memilih  menjadi  orang  kaya yang bersyukur. Akan tetapi ketahuilah bahwa kebanyak  orang  diuji  dengan  kekayaan  tidak  lulus, dan sebaliknya kebanyakan orang yang diuji dengan kemiskinan bisa lulus. Oleh karenanya tatkala Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam melihat penghuni surga, beliau melihat kebanyak  penghuninya  adalah  orang-orang  miskin.

Maka jika Anda adalah orang yang miskin, bersyukurlah   kepada   Allah  subhanahu wa ta’ala,  karena   bisa   jadi kemiskinan itu mengantarkan Anda surga Allah subhanahu wa ta’ala. Kenyataannya, kesabaran seseorang menghadapi kemiskinan itu lebih mudah daripada kesabaran seseorang menghadapi kekayaan. Dan ini telah diisyaratkan   dalam   hadits-hadits   Nabi   dan   juga firman Allah subhanahu wa ta’ala. Di antaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Dan  sesungguhnya  dia  (manusia)  sangat  bakhil  karena cintanya kepada harta.” (QS. Al-‘Adiyat : 8)

Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr : 20)

Cinta terhadap harta adalah ssifat manusiawi. Dan kita sadari bahwa harta itu manis, sehingga terkadang seseorang rela bekerja 24 jam sehari hanya untuk meraih harta. Dan apabila seseorang telah mersakan manisnya  harta,  maka  dia akan semakin terdorong untuk terus mencari harta.

Dan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam telah mengingatkan bahwa fitnahnya umat ini adalah harta. Dalam sebuah hadits beliau Muhammad shalallahu alaihi wassalam ﷺ bersabda,

Sesungguhnya setiap ummat itu memiliki fitnah dan fitnah ummatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi no. 2336)

Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda,

Sungguh demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan   dari   kalian.   Akan   tetapi   yang   aku khawatirkan   atas   kalian   adalah   bila   kalian   telah dibukakan (harta) dunia sebagaimana telah dibukakan kepada orang-orang sebelum kalian lalu kalian berlomba- lomba untuk memperebutkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba untuk memperebutkannya, sehingga akhirnya harta dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari no. 3158)

Ketahuilah bahwa betapa banyak pertikaian dan permusuhan yang terjadi antara saudara, kerabat, bahkan seorang anak dan orang tuanya, yang disebabkan  karena  masalah  harta.  Ini  adalah kenyataan yang ada. Karena hasad, cemburu, persaingan dalam bisnis,

Sebagaimana telah kita sebutkan bahwa harta itu manis,  akhirnya  kita  dapati  fenomena  yang  sangat menyedihkan. Ada sebagian orang yang dahulu rela meninggalkan pekerjaan haramnya demi Allah, kemudian menjalani kehidupan dengan hidup pas- pasan karena Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi sering berjalannya waktu, dia akhirnya terfitnah dengan dunia, sehingga akhirnya dia kembali mencari harta dengan cara-cara yang  haram  setelah  dia  mampu  bersabar  atas  apa yang dia tinggalkan sebelumnya. Sungguh ini adalah sebuah fenomena yang sangat menyedihkan. Oleh karenanya harta adalah tetap menjadi fitnah yang sangat besar bagi umat ini.

Oleh karenanya sebagaimana telah kita katakan bahwa banyak orang lulus tatkala diuji dengan kemiskinan, dan sedikit yang bisa lulus tatkala diuji dengan kekayaan. Hal ini dikarenakan kecintaan seseorang  terhadap  harta.  Bahkan  betapa  banyak orang yang akhirnya menjadi penyembah harta sebagaimana telah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam dalam haditsnya,

Binasalah  hamba  dinar,  dirham,  hamba  pakaian,  jika diberi maka ia ridha jika tidak diberi maka ia mencela.” (HR. Bukhari no. 2887)

Rasulullah  Muhammad shalallahu alaihi wassalam ingin  mengatkan  bahwa  ada  orang- orang yang benar-benar menyembah harta, sehingga seluruh tindak tanduknya itu karena harta, kecintaan dan permusuhan dibangun di atas harta, bahkan mungkin keharaman rela dia lakukan demi untuk meraih harta. Dan orang yang seperti ini itu ada. Dan ketahuilah  bahwa  tatkala  seseorang  telah mendapatkan  harta,  maka  terkadang  bahkan seringnya mereka menjadi angkuh. Hal ini sebagaimana    ditegaskan    oleh    Allah    subhanahu wa ta’ala dalam firmanNya,

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas  (zalim),  karena  dia  melihat  dirinya  serba  cukup (kaya).” (QS. Al-‘Alaq : 6-7)

Oleh karenanya inilah sebab mengapa seseorang mudah untuk masuk ke dalam neraka karena harta, mereka tidak sabar dan tidak lulus dari fitnah dan ujian harta, karena tatkala harta mereka telah miliki maka mereka pun mereka angkuh dan merasa hebat serta merasa tidak butuh kepada orang lain sehingga akhirnya yang terjadi adalah kezaliman atau perendahan terhada orang lain. Dan ini semua adalah tabiat manusia, dan jika hal tersebut tidak dilawan dengan ayat-ayat dan hadits-hadits, maka orang yang memilii harta yang banyak akan terbawa kepada sikap keangkuhan dan menzalimi orang lain, kecuali orang- orang yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Sikap seorang muslim terhadap harta, selalau bersedekah dari harta yang diperolehnya (Hidayatullah.com)
Sikap seorang muslim terhadap harta, selalau bersedekah dari harta yang diperolehnya (Hidayatullah.com)

3. Ingatlah, bahwa   memburu   harta   adalah sesuatu yang tidak akan pernah selesai dan tidak ada tujuan yang bisa dicapai

Seorang  manusia  yang  mencari  harta,  dia  akan senantiasa   haus   untuk   meraih   harta   sebanyak-banyaknya.  Dan  ini  telah  ditegaskan  oleh  Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam dalam  hadits  yang  diriwayatkan  oleh  Imam  Al-Bukhari   dan   Imam   Muslim.   Dari   Ibnu   ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda,

Artikel Menarik Wajib Anda Baca:  Biro Umroh Madina Prima

Sekiranya anak Adam memiliki harta sebanyak dua bukit (dalam riwayat yang lain: dua bukit bukit emas2), niscaya ia akan mencari untuk mendapatkan bukit yang ketiga, dan tidaklah perut anak Adam itu puas kecuali jika telah dipenuhi dengan tanah, dan Allah menerima taubat siapa saja yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih) HR. Bukhari no. 6463 dan HR. Muslim no. 1048

Dan Allah subhanahu wa ta’alatelah menegaskan hal Sikap seorang muslim terhadap harta dalam firmanNya,

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur : 1-2)

Oleh karenanya kita dapati ada orang yang sudah tua rentan,  akan tetapi  masih  sibuk  memikirkan  harta, padahal dia telah kaya raya dan usianya mungkin telah mencapai usian 70 tahun dimana seharusnya dia menikmati harta yang dia miliki, akan tetapi dia masih pusing.  Akhirnya  terkadang  orang  yang  demikian tidak merasakan nikmatnya harta yang dia miliki tersebut,  akan  tetapi  dia  merasakan  nikmat  tatkala bisa mengumpulkan harta tersebut. Maka ingatlah bahwa harta itu manis, semakin dicicipi maka akan semakin mendorong orang yang mencicipinya untuk terus mencarinya, dan dia tidak akan berhenti ketika dia telah meninggal dunia dan dikuburkan ke dalam tanah.

Oleh karenanya tatkala seseorang telah mengetahui bahwa pencarian harta tidak akan ada ujungnya, maka hendakanya dia memberikan batasan pada pencariannya tersebut. Sehingga jika ada sisa harta yang dia  miliki,  dia  bisa menginfakkannya  di  jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah salah satu sikap seorang muslim terhadap harta yang utama.

4. Tatkala seseorang tergiur untuk merasakan manisnya dunia, dia harus sadar bahwa manisnya dunia   tidak ada bandingannya dengan manisnya akhir

Harta di dunia ini tidak ada bandingannya dengan kenikmatan di akhirat. Dan ketahuilah bahwa harta di sisi Allah subhanahu wa ta’ala  tidaklah bernilai kecuali harta tersebut digunakan untuk bertakwa kepada Allahsubhanahu wa ta’ala. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda,

Seandainya dunia itu di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, tentu Allah tidak mau memberi orang orang kafir walaupun hanya seteguk air.” (HR. Tirmidzi no. 2320)

Maksud hadits ini adalah dunia ini tidak ada nilainya. Bahkan Allah ﷻ dan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam memberi gambaran bahwasanya dunia ini tidak memiliki nilai meskipun hanya   seperti   sayap   seekor   nyamuk.   Maka   jika sekiranya dunia ini ada nilainya, maka Allah subhanahu wa ta’alatidak akan memberikan dunia kepada orang kafir karena Allah subhanahu wa ta’alapasti hanya akan memberikan dunia kepada orang yang beriman dan bertakwa, agar dengan dunai tersebut mereka orang-orang beriman bisa beribadah kepada  Allah  subhanahu wa ta’ala.  Akan  tetapi  tatkala  diterangkan bahwa  dunia  itu  tidak ada  nilainya,  maka Allah  subhanahu wa ta’ala memberikan  dunia  ula  kepada  orang  kafir.  Oleh karenanya jangan sampai ada di antara kita yang terbetik dalam hatinya bahwa mengapa orang-orang kafir dan orang-orang yang bermaksiat kepada Allah hidupnya kaya raya sedangkan orang-orang yang beriman kebanyakan hidup miskin. Karena sesungguhnya  jika  dunia  ini  memiliki  nilai,  maka Allah tidak akan berikan kepada orang-orang kafir dan orang-orang yang bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi karena dunia ini tidak ada nilainya, maka Allah juga berikan dunia kepada orang-orang kafir.

Maka  dari  itu  tidak  bisa  kita  membandingkan antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat. Ketahuilah bahwa dunia sifatnya sementara, dan kenikmatan dunia itu memiliki tiga sifat, pertama adalah kenikmatannya seidkit; kedua adalah kenikmatannya sementara; ketiga adalah adalah kenikmatannya tidak sempurna dan tercampur hal-hal yang bisa merusak kelezatan nikmat tersebut. Sedangkan kenikmatan akhirat berbeda, sifatnya yang pertama adalah kenikmatannya sangat banyak; kedua adalah kenikmatannya kekal abadi; ketiga adalah kenikmatannya penuh dengan kesempurnaan.  Oleh karenanya ini menunjukkan bahwa kenikmatan dunia tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan akhirat.

Dari   sini,   tatkala   kita   mencari   harta,   jangan letakkan harta itu di hati kita, akan tetapi kita letakkan harta tersebut di tangan kita yang bisa kita gunakan untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ingatlah bahwa harta itu bukan tujuan, melainkan harta itu hanyalah sarana.

Oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan tentang sikap seorang muslim terhadap harta ,

Dan   janganlah   kamu   melupakan   bahagianmu   dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashash : 77)

Ayat ini menegaskan bahwa harta itu boleh untuk dimiliki, akan tetapi dia bukanlah tujuan meliankan sebagai sarana. Imam Asy-Syafi’i mengatakan,

Sesungguhnya ada di antara hamba-hamba Allah yang “”cerdas, mereka mencari dunia dan khawatir terhadap fitnah Mereka melihat kepada dunia, maka mereka sadari bahwa dunia itu bukan tempat hidup selama-lamanya. Maka mereka menjadikan dunia seperti lautan, dan menjadikan amal shalih di dunia sebagai perahu.

Maka ingatlah bahwa dunia itu adalah sarana yang bisa mengantarkan seseorang menuju akhirat, dan bukan  sebagai  tujuan.  Meskipun  demikian, kebanyakan   manusia   beriman   dengan   apa   yang mereka  lihat.  Sehingga  tatkala  berbicara  tentang surga,  mereka  tidak  tahu  karena  mereka  belum pernah melihatnya. Karena keimanan mereka tergantung  dengan  apa  yang  mereka  lihat,  maka jadilah   mereka   orang-orang   yang   seperti   Allah firmankan,

Tetapi   kamu   memilih   kehidupan   duniawi,   sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la : 16-17)

Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menampakkan satu kenikmatan    akhirat    pun    di    muka    bumi    ini sebagaimana firmanNya,

Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah : 17)

Oleh karenanya tatkala Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam mengabarkan bahwa shalat berjamaah itu 27 derajat lebih besar daripada shalat senidiran, maka kita katakan bahwa kalau sekiranya  pahala  shalat  berjamaah  itu diperlihatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka semua orang akan shalat berjamaah,  akan  tetapi  Allah  tidak  akan menampakkan  itu  semua.  Sehingga  kebanyakan  di antara kita hanya beriman kepada apa yang kita lihat dan tidak yakin dengan janji-janji Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga akhirnya kita mendahulukan dunia daripada akhirat, padahal akhirat lebih baik daripada dunia.

 

5. Sikap seorang muslim terhadap harta -Harta seseorang merupakan titipan Allah subhanahu wa ta’ala dan bukan milik seseorang secara mutlak

Harta  yang  kita  miliki  dan  seluruh  kenikmatan yang kita miliki hakikatnya dari Allah dan milik Allah, dan  kita  hanya  menjadi  tempat  dititipnya  nikmat tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Jatsiyah : 13)

Ayat  ini  menjadi  dalil  bahwa  seluruh  harta  adalah milik Allah, dan Allah-lah yang memberikannya kepada kita. Sehingga semua itu adalah titipan.

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang sikap seorang muslim terhadap harta ,

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadid :7)

Allah-lah yang menjadikan kita dapat memiliki harta, akan tetapi pemilik yang sesungguhnya adalah Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam ayat yang lain tentang sikap seorang muslim terhadap harta Allah subhanahu wa ta’alalebih jelas menegaskan,

Dan  berikanlah  kepada  mereka  sebahagian  dari  harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.” (QS. An-Nur : 33)

Di dalam ayat ini, harta itu langsung disandarkan kepada  Allah  yang  menunjukkan  bahwa  sejatinya harta itu milik Allah subhanahu wa ta’ala.

Perkara  ini  -yaitu  keyakinan  bahwa  segala  harta adalah milik Allah subhanahu wa ta’ala- telah dipahami oleh para sahabat. Bahkan dalam sebuah riwayat menjelaskan bahwa orang Arab badui pun paham akan perkara ini.

Dari   Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,   beliau berkata,

Saya berjalan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ketika itu beliau mengenakan kain (selendang –pent) Najran yang kasar ujungnya, lalu ada seorang Arab badui (dusun) yang menemui beliau. Maka ditariknya kain Rasulullah dengan kuat hingga saya melihat permukaan bahu beliau  membekas  lantaran  ujung  selimut  akibat  tarikan Arab  badui  yang  kasar.  Arab  badui  tersebut  berkata; “Wahai Muhammad, berikan kepadaku dari harta yang diberikan  Allah  padamu”,  maka  Rasulullah  shallallahu

‘alaihi wa sallam menoleh kepadanya diiringi senyum serta menyuruh salah seorang sahabat untuk memberikan sesuatu kepadanya.” (HR. Bukhari no. 5809)

Oleh   karenanya   dari   sini  saya   ingin   jelaskan bahwasanya harta yang kita miliki adalah titipan dari Allah subhanahu wa ta’aladan bukan milik kita secara mutlak. Bukti akan hal ini sangat jelas tatkala kita tertimpa musibah,  tatkala kita mengucapkan “Inna lillahi wa inna Ilaihi roji’un”. Kalimat ini mengandung keyakinan bahwa kita ini semua adalah milik Allah, dan akan kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala Maka tatkala ada orang yang mengingkari  akan  hal  ini  –yaitu  dia  mendapatkan harta karena kelebihan dan kecerdasannya-, maka hal tersebut adalah kesalahan. Kita  harus sadar bahwa kita  hanya  melakukan  sebab,  akan  tetapi  Allah-lah yang   memberikan   harta   tersebut   kepada   kita, sehingga usaha kita bukanlah kunci datangnya rezeki melainkan Allah-lah yang menentukan adanya rezeki atau tidak. Oleh karenanya tidak ada ahli matematika yang mengatakan bahwasanya kecerdasan beebanding lurus dengan kecerdasan. Tidak berarti orang yang kaya itu lebih pintar daripada orang miskin, karena sekali lagi bahwa rezeki itu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Kita dapati ada orang yang bergelar professor atau doktor, akan tetapi dia miskin. Sedangkan di sisi lain kita dapati ada orang yang tidak sekolah namun kaya raya. Oleh karenanya kecerdasan tidak berbanding lurus dengan kekayaan.

Yang ingin kita tegaskan disini adalah harta itu adalah milik Allah, dan Allah-lah yang mengatur bagaimana  harta  tersebut  bisa  sampai  kepada  kita. Kita hanya menjalankan sebab, namun bukanlah kecerdasaan kita yang mengharuskan harta tersebut datang. Oleh karenanya tatkala Qarun dengan begitu bangganya memiliki harta yang begitu banyak, dia bersikap     sombong.     Sampai-sampai     Allah  subhanahu wa ta’alamengabadikan   perkataannya   tersebut   di   dalam Alquran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena  ilmu  yang  ada  padaku”.  Dan  apakah  ia  tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat  sebelumnya  yang  lebih  kuat  daripadanya,  dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa- dosa mereka.” (QS. Al-Qashash : 78)

Qarun lupa bahwa sesungguhnya Allah-lah yang memberikan harta itu kepadanya, dan bukan karena ilmu dan kecerdasannya.

Artikel Menarik Wajib Anda Baca:  Hak-hak Suami Terhadap Istrinya

Demikian  juga  kisah  tentang  tiga  orang  dari  Bani Israil yang memiliki penyakit baros, kudis dan buta. Kemudian datanglah malaikat menyembuhkan penyakit mereka dan berdoa kepada Allah sehingga mereka memiliki harta yang banyak. Setelah mereka sembuh,  malaikat  tersebut  datang  kepada  mereka pada waktu yang lain dalam kondisi sebagaimana tiga orang Bani Israil ini sebelumnya (memiliki penyakit). Tatkala malaikat datang kepada orang yang buta dan ditanya tentang harta yang ia dapatkan, maka orang buta tersebut mengatakan bahwa harta itu dari Allah subhanahu wa ta’alaﷻ. Akan  tetapi  tatkala  malaikat  mendatangi  orang yang memiliki penyakit kudis dan baros (albino) dan bertanya kepada mereka tentang sikap seorang muslim terhadap harta yang mereka miliki, maka mereka menjawab,

Sesungguhnya aku mewarisi harta ini dari nenek moyangku yang kaya.” (HR. Muslim no. 2964)

Inilah sebagian kisah orang-orang yang kufur kepada nikmat Allah subhanahu wa ta’ala, dan orang-orang seperti ini dicela oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Oleh karenanya perkara yang semakin menunjukkan bahwa harta itu hakikatnya bukan milik kita melainkan milik Allah subhanahu wa ta’alaadalah tatkala kita meninggal dunia, maka harta kitapun langsung masuk dalam hukum Allah subhanahu wa ta’ala (hukum waris). Di antara dalil bahwasanya harta itu bukan milik kita adalah kenikmatan   yang   kita   dapatkan   tidak   bisa   kita salurkan  tanpa  aturan.  Tatkala  kita  merasa  bahwa harta adalah titipan dari Allah subhanahu wa ta’ala, maka kita harusnya sadar bahwa tatkala kita bermuamalah dengan titipan tersebut, maka harus sesuai dengan aturan yang memberikan  titipan.  Contohnya  adalah  jasad  kita, ketahuilah bahwa jasad kita ini adalah nikmat dari

Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi tidak boleh seseorang merusak jasadnya  dengan  seenaknya.  Dan  ingatlah  bahwa setiap nikmat itu akan diertanggungjawabkan kelak.

Dan Allah subhanahu wa ta’alatelah berfirman,

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl : 53)

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur : 8)

Oleh   karenanya   jika   ada   orang   yang   merusak tubuhnya hingga meninggal dunia, maka dia akan diazab  oleh  Allah  subhanahu wa ta’ala. Dalam  hadits  Abu  Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda,

Barangsiapa menjatuhkan diri dari gunung, hingga membunuh jiwanya (bunuh diri), maka ia akan jatuh ke neraka jahannam secara terus menerus, ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa menegak racun, hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya, dan ia akan menegaknya di neraka jahannam, ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan barang siapa  bunuh  diri  dengan  (menusuk  dirinya  dengan)  besi, maka besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan menghujamkan ke perutnya di neraka jahannam, ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5778)

Oleh karenanya tatkala seseorang mengetahui bahwa titipan harta tersebut dari Allah subhanahu wa ta’ala, maka seseorang mengelola  titipan  tersebut  dengan  aturan  Allah  subhanahu wa ta’ala. Aturannya   pun   sangat   mudah,   karena   ada   dua pertanyaan yang akan Allah subhanahu wa ta’ala tanyakan kepada seseorang dari setiap harta yang dimiliki. Pertanyaan tersebut adalah dari mana harta itu didapakan dan

kemanakan harta itu dibelanjakan (digunakan). Pertanyaan  pertama  –yaitu  dari  mana  harta didapatkan- ini telah banyak membinasakan banyak orang. Allah akan bertanya secara detil tentang harta yang kita miliki, apakah itu semua didapatkan dengan cara yang halal atau haram, atau bahkan dari perkara yang syubhat. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tahu dari mana asal semua harta kita. Maka betapa banyak orang yang akan binasa tatkala Allah subhanahu wa ta’ala bertanya tentang dari mana harta itu didapatkan, dan orang-orang  tatkala itu tidak bisa menjawab. Kalaupun  sekiranya  harta  yang  kita  dapatkan  halal sepnuhnya dan disertai dengan bukti-bukti, maka pertanyaan selanjutnya adalah dimanakah harta itu dihabiskan. Sungguh pertanyaan kedua ini juga sangat sulit dan tidak jauh lebih mudah dari pertanyaan pertama. Kita akan ditanya kelak tentang kemakah harta itu dihabiskan, apakah dihabiskan dengan berfoya-foya? Ataukah dihabiskan untuk membeli barang yang tidak berguna? Ataukah digunakan untuk membeli barang-barang mewah untuk angkuh dan sombong?  Ataukah  dihabiskan  di  jalan  Allah  subhanahu wa ta’ala?

Sungguh ini adalah pertanyaan yang berat yang akan ditujukan kepada setiap diri kita. Oleh karenanya tatkala kita menyadari bahwa harta kita itu adalah titipan dari Allah subhanahu wa ta’ala, maka gunakan dengan syarat kita bisa menjawab pertanayaan Allah subhanahu wa ta’alapada hari kiamat kelak, yaitu dari mana didapatkan dan kemana harta tersbeut dibelanjakan.

 

6. Dalam sikap seorang muslim terhadap harta  -Syariat tidak menganjurkan kita miskin dan meninggalkan mencari harta.

Ingatlah bahwa Allah Allah  subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

Dan   janganlah   kamu   melupakan   bahagianmu   dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashash : 77)

Dunia itu harus ada, dan tidak mungkin kita bisa menuju akhirat tanpa melalui dunia. Dunia harus kita miliki sebagai sarana untuk menantarkan kita kepada akhirat.

Oleh    karenanya    terlalu    banyak    ayat    yang menyebutkan   tentang   karunia   Allah  subhanahu wa ta’ala terhadap manusia dengan harta yang Allah  Allah  subhanahu wa ta’ala anugerahkan kepada manusia. Di antaranya adalah firman Allah Allah  subhanahu wa ta’ala ,

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak  (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 29)

Ayat ini menunjukkan bahwasanya Allah Allah  subhanahu wa ta’ala telah memberikan karunia dalam rangka untuk memuji dan bersyukur kepada Allah Allah  subhanahu wa ta’ala . Maka jika sekiranya mengambil harta adalah sesuatu yang terhina, maka Allah Allah  subhanahu wa ta’ala tidak akan memuji diriNya dengan menyebutkan   karunia   yang   Dia   berikan   kepada manusia. Karena pemberian Allah Allah  subhanahu wa ta’ala kepada hamba- hambaNya adalah karunia.

Dalam ayat yang lain Allah Allah  subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. An-Nahl : 8)

Dan Allah Allah  subhanahu wa ta’ala melarang orang-orang yang mengharam-haramkan karunia Allah Allah  subhanahu wa ta’ala . Allah Allah  subhanahu wa ta’ala berfirman,

Katakanlah:  “Siapakah  yang  mengharamkan  perhiasan dari  Allah  yang  telah  dikeluarkan-Nya  untuk  hamba- hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al-A’raf : 32)

Dijelaskan oleh para ulama di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimyah rahimahullah, bahwa seluruh harta dan nikmat yang Allah ciptakan asalnya

untuk orang yang beriman. Mahfum mukhalaf dari ayat ini kata para ulama, bahwa harta dan kenikmatan itu pada dasarnya haram bagi orang kafir. Oleh karenanya setiap kenikmatan dan harta yang mereka cicipi di dunia ini akan diazab oleh Allah Allah  subhanahu wa ta’ala . Allah Allah  subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke   neraka   (kepada   mereka   dikatakan):   ‘Kamu   telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu   (saja)   dan   kamu   telah   bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik’.” (QS. Al-Ahqaf : 20)

Berbeda dengan orang yang beriman, Allah Allah  subhanahu wa ta’ala berikan kenikmatan  dan  tidak  memberikan  azab  kelak  di akhirat  karena  mereka  telah  menggunakannya  di dunia  dengan  tepat.  Adapun  orang  kafir,  setiap nikmat  yang  mereka  rasakan  akan  dibalas  dengan azab   karena   kenikmatan   yang   mereka   dapatkan digunakan untuk beribadah kepada selain Allah Allah  subhanahu wa ta’ala .

Dalam ayat lain, Allah Allah  subhanahu wa ta’ala bahkan memerintahkan untuk mencari karnuianya. Allah Allah  subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dialah  Yang  menjadikan  bumi  itu  mudah  bagi  kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk :15)

Dari ayat ini semakin menegaskan bahwa Allah  Allah  subhanahu wa ta’ala tidak melarang seseorang mencari harta, melainkan sebagai motivasi seseorang untuk mencari harta. Hanya  saja  perlu  untuk  diingat  bahwa  kita  akandikembalikan kepada Allah Allah  subhanahu wa ta’ala .

Dalam ayat yang lain Allah Allah  subhanahu wa ta’ala juga berfirman,“Apabila  telah  ditunaikan  shalat,  maka  bertebaranlah kamu  di  muka  bumi;  dan  carilah  karunia  Allah  dan ingatlah  Allah  banyak-banyak  supaya  kamu  beruntung.” (QS. Al-Jum’ah : 10)

Dalam sebagian ayat yang lain, Allah Allah  subhanahu wa ta’ala seakan- akan   memancing   kita   untuk   berusaha mencari kenikmatannya. Allah Allah  subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan Dialah Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya,  dan  supaya  kamu  bersyukur.”  (QS.  An-Nahl : 14)

Dalam  ayat  ini,  kata istikhraj  maknanya membutuhkan  usaha.  Sehingga  ayat  ini mengisyaratkan bahwa ada usaha dalam mencari karunia Allah Allah  subhanahu wa ta’ala .

Dan  Rasulullah  Muhammad shalallahu alaihi wassalam mencela  orang-orang  yang meminta-minta. Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda,

Sungguh, seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dan dipikul di punggungnya, itu lebih baik baginya daripada dia meminta kepada orang lain, baik orang lain itu memberinya atau menolaknya.” (HR. Bukhari no. 2074)

Bahkan dalam suatu hadits mekanjubkan yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Imam Ahmad, dan Abu Daud, dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda,

Apabila hari kiamat hendak ditegakkan, dan di tangan seseorang masih terdapat fashilah4, maka jika ia mampu menanamnya sebelum hari kiamat maka tanamlah.” (HR. Bukhari no. 479 dalam Al-Adabul Mufrad).

Ini  adalah  gambaran  yang  luar  biasa  dari  Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam tentang    bagaimana    agar    seseorang senantiasa berusaha dan tidak pasrah.

Dari sini kita pahami bahwasanya tidak mengapa seseorang  mencari  harta,  bahkan  dalil-dali  di  atas merupakan  dalil  anjuran  untuk  berusaha.  Terlebih lagi kalau harta yang kita miliki tersebut kita gunakan untuk  dakwah di  jalan  Allah  subhanahu wa ta’ala, pendidikan Islam, membangun   masjid,   dan   sarana   prasarana   yang menunjang    kegiatas    umat    Islam,    maka    tentu pahalanya sangat luar biasa.

Artikel Menarik Wajib Anda Baca:  5 Hal Peyebab Kita Wajib Mandi Sebelum Mengerjakan Sholat

 

7. Keutamaan orang kaya dan sikap seorang muslim terhadap harta 

Rasulullah  Muhammad shalallahu alaihi wassalam telah  bersabda  yang  disebutkan dalam hadits yang sahih,

Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang salih (baik).” (HR. Ahmad no. 17798)

Jika  harta  dimiliki  oleh  orang  salih,  maka  itulah sebaik-baik harta. Alasannya adalah karena orang tersebut akan menyalurkan hartanya kepada hal-hal yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’alaﷻ.

Terlalu banyak dalil-dalil baik dari Alquran dan sunnah yang memerintahkan seseorang untuk berinfaq. Dan anjuran berinfaq tersebut secara otomatis menunjukkan bahwa pentingnya untuk menjadi orang kaya, karena jika seseorang tidak kaya, maka bagaimana bisa dia berinfaq? Di antara firman

Allah subhanahu wa ta’alayang memerintahkan untuk berinfaq antara lain,

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap   bulir   seratus   biji.   Allah   melipat   gandakan (ganjaran)  bagi  siapa  yang  Dia  kehendaki.  Dan  Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Baqarah : 261)

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun  berat,  dan  berjihadlah  kamu  dengan  harta  dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah : 41)

Kebanyakan ayat di dalam Alquran tatkala menyebutkan tentang jihad, Allah subhanahu wa ta’ala mendahulukan penyebutan jihad dengan harta daripada jihad dengan jiwa  (diri),  kecuali  hanya  sedikit  ayat  yang didahulukan penyebutan jihad dengan jiwa daripada jihad dengan harta. Tidak setiap saat seseorang bisa berjihad dengan jiwanya, akan tetapi berjihad dengan harta bisa dilakukan setiap saat oleh seseorang.

Oleh karenanya tidak heran kalau NabiMuhammad shalallahu alaihi wassalam telah bersabda,

Tidak boleh mendengki kecuali terhadap dua hal; (terhadap) seorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Bukhari no. 73)

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam mengabarkan bahwa hanya kepada dua jenis orang inilah yang boleh kita hasad kepadanya, yaitu orang yang berilmu dan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Ketahuilah bahwa dakwah ini tidak mungkin berjalan dengan baik kecuali dengan adanya dua model orang ini. Oleh karenanya Allahsubhanahu wa ta’ala dengan   hikmahNya,   tatkala   Nabi  Muhammad shalallahu alaihi wassalam memulai dakwahnya,  maka  Allah  subhanahu wa ta’alamenikahkan  Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam  dengan Khadijah radhiallahu ‘anhu yang kaya raya, sehingga   akhirnya   harta   yang   dimiliki   Khadijah diberikan  seluruhnya  kepada  Rasulullah  Muhammad shalallahu alaihi wassalam untuk berdakwah, sampai-sampai Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam mengatakakan,

Dan dia (Khadijah) membantuku dengan hartanya tatkala manusia menutup diri dariku (tidak membantuku).” (HR. Ahmad no. 24908)

Dan di antara hikmah Allah subhanahu wa ta’ala juga adalah diawal dakwah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam , yaitu yang pertama kali masuk Islam adalah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu seorang saudagar yang kaya raya, yang membeli para budak yang disiksa termasuk Bilal bin Rabbah untuk dibebaskan. Oleh karenanya masalah harta bukanlah hal yang disepelakan, karena kepada merekalah –yaitu orang- orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah– seseorang boleh hasad.Orang yang memilki harta dan digunakan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia akan banyak pahala yang akan dia raih dengan harta yang dia infakkan tersebut. Oleh karenanya   disebutkan   bahwa   para   sahabat   dari kalangan fuqara’ Muhajirin cemburu kepada sahabat Anshar   yang   kaya   raya.   Dari   Abu   Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,

Orang-orang fakir Muhajirin datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Orang-orang kaya telah memborong derajat-derajat ketinggian dan kenikmatan yang abadi.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apa maksud kalian?” Mereka menjawab: “Orang-orang kaya shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka bersedekah dan kami tidak bisa melakukannya, mereka bisa membebaskan budak dan kami tidak  bisa  melakukannya.”  Maka  Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang karenanya kalian bisa menyusul orang- orang yang mendahului kebaikan kalian, dan kalian bisa mendahului kebaikan orang-orang sesudah kalian, dan tak seorang pun lebih utama daripada kalian selain yang berbuat seperti yang kalian lakukan?” Mereka menjawab; “Tentu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap habis shalat sebanyak tiga puluh  tiga  kali.”  Abu  shalih  berkata;  “Tidak  lama kemudian para fuqara’ Muhajirin kembali ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Ternyata teman- teman kami yang banyak harta telah mendengar yang kami kerjakan, lalu mereka mengerjakan seperti itu” Rasulullah shallallahu  ‘alaihi  wasallam  bersabda:  “Itu  adalah keutamaan Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (Muttafaqun ‘alaih).HR. Bukhari no. 843 dan HR. Muslim no. 595, dengan lafadz Imam Muslim.

Lihatlah bagaimana semangatnya para sahabat berlomba-lomba dalam beramal salih. Mereka tidak cemburu kepada orang-orang kaya karena kekayaannya,  akan  tetapi  karena  orang-orang  kaya bisa mendapatkan pahala yang tidak bisa didapatkan oleh para fuqara  Muhajirin. Oleh karenanya  orang yang memiliki harta yang banyak dan benar-benar diagunakan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia bisa memborong pahala yang banyak di sisi Allah ﷻ. Dan ingatlah pula bahwa Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam telah bersabda,

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).” (Shahihul Jami’ no. 3289)

Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam mengatakan,

Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah rasa senang (kebahagiaan) yang engkau masukkan kedalam seorang muslim, atau menghilangkan kesulitannya, atau melunaskan hutang-hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya.” (HR. Thabrani no. 861 dalam Mu’jam Ash-Shaghir)

 

8. Barangsiapa yang berinfak di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah subhanahu wa ta’alaakan menambahkan rezekin

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadits qudsi,

Berinfaklah wahai anak cucu Adam, niscaya Aku akan berinfak kepadamu (memberi ganti).” (Muttafaqun ‘alaih). HR. Bukhari no. 5352 dan HR. Muslim no. 9937

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam juga bersabda,

Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim 2588)

Tentu dalam perkara ini memerlukan keimanan. Oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala mencela sifat pelit. Dan kalau kita perhatikan, di dunia ini orang Islam kaya itu banyak, akan tetapi yang pelit juga banyak. Oleh karenanya

Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda,

Dan tidak akan berkumpul sikap kikir dan keimanan dalam hati seorang hamba selamanya.” (HR. An-Nasa’i no. 3110)

Maka seseorang yang pelit dengan hartanya menunjukkan bahwa imannya terhadap hari akhirat tidak beres. Karena   meskipun   Nabi  Muhammad shalallahu alaihi wassalam telah mengatakan, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta”, mereka tetap tidak yakin sehingga mereka hanya menyimpan-nyimpan harta karena rasa pelit.

Oleh karenanya yang mengkhawatirkan bagi kita adalah banyaknya orang-orang kaya namun pelit. Dan karena hal ini pula ada seorang ahli ilmu yang menulis kitab berjudul Al-Bukhala’, yaitu kitab yang menceritakan kisah orang-orang pelit.

Oleh karenanya cabalah lihat bagaimana dermawannya para sahabat. Contohnya adalah Abdurrahman   bin   ‘Auf radhiallahu   ‘anhu,   yang pernah menangis karena takut hartanya menghalanginya masuk surga, padahal Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam telah  mengatakan  bahwa  dia  termasuk  penghuni

surga. Akan tetapi beliau menangi karena takut terlambat masuk ke dalam surga karena hisab yang begitu banyak atas hartanya, sementara sahabat- sahabatnya  yang  lain  telah  masuk  terlebih  dahulu. Kita tahu bahwa Abdurrahman bin ‘Auf adalah seorang saudagar kayak yang datang dari Mekkah ke Madinah dalam keadaan miskin. Tatkala dipersaudarkan oleh Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam dengan Sa’ad bin Rabi’,  ia  ditawarkan  separuh  dari  harta  Sa’ad  bin Rabi’, akan tetapi Abdurrahman bin ‘Auf memilih untuk ditunjukkan pasar agar ia bisa berdagang. Akhirnya Abdurrahman bin ‘Auf pun berdagang hari demi  hari  hingga  akhirnya  menjadi  saudagar  yang kaya raya lagi, dan akhirnya menikahi wanita Anshar.

Abdurrahman bin ‘Auf adalah orang yang terkenal sangat kaya dan senang berinfaq, bahkan semakin dia berinfaq maka semakin Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kekayaan kepadanya. Disebutkan oleh Al-Hfidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa Abdurrahman bin  ‘Auf  memiliki  empat  orang  istri,  dan  tatkala beliau meninggal diberikan warisan bagi satu orang istri sebanyak 100.000 dinar. Dan jika kita hitung- hitung  dari  hukum  waris,  maka  istri  mendapatkan 1/8 dari harta suami. Maka jika total warisan yang didapatkan oleh keempat istri Abdurrahman bin ‘Auf adalah 400.000 dinar, dan angka tersebut adalah 1/8 dari  harta  Abdurrahman  bin  ‘Auf.  Sehingga  total harta Abdurrahman bin ‘Auf adalah 3.200.000 dinar. Akan tetapi ketahuilah, meskipun Abdurrahman bin ‘Auf  memiliki  harta  yang  banyak,  ia  tidak  pernah merasa percaya diri dan ujub atas apa yang dia infakkan.   Berbeda   dengan   sebagian   orang   yang tatkala memberikan infaq, dia senantiasa mengungkit- ngungkit jasanya. Akan tetapi Abdurrahman bin ‘Auf berinfaq semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Sampai-sampai suatu saat Sa’ad bin Jubair pernah melihat ada orang yang tawaf di Ka’bah yang setiap dia bertawaf orang tersebut berdoa,

Ya Allah jauhkan aku dari sifat pelit, Ya Allah jauhkan aku dari sifat pelit.”

Sa’ad bin Jubair tatkala mendengarkan doa tersebut menyangkan bahwa apakah orang tersebut adalah orang yang pelit sehingga dia harus berdoa seperti itu? Akan tetapi seteleh dicari tahu, ternyata orang tersebut adalah Abdurrahman bin ‘Auf yang terkenal suka berinfaq.

Inilah beberapa perkara yang bisa kita bahas dalam   pembahasan   kesempatan   kali   ini.   Intinya adalah harta bukanlah hal yang tersecela, justru sangat dianjurkan dalam syariat jika seseorang yang memiliki harta, kemudian harta tersebut digunakan di jalan Allah  subhanahu wa ta’ala,  sehingga  hal  tersebut  akan  menaikkanderajatnya di akhirat kelak. Akan tetapi orang-orang yang memiliki harta namun digunakan pada perkara-perkara yang sia-sia dan tidak diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka harta tersebut akan mendatangkan kecelakaan baginya di akhirat kelak. Wallahu a’lam bisshawab.

========================================

Karya: Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA

Sumber : Firanda.com