7 Perkara Penting Bagi Seorang Muslim

7 Perkara Penting Bagi Seorang Muslim

Perkara penting seorang muslim – Ketahuilah, ada tujuh perkara yang wajib dilakukan oleh seorang muslim ketika menerima perintah-perintah Allah, yaitu:[1]

Pertama  : Belajar dan mengilmuinya

Kedua      : Mencintainya

Ketiga      : Tekad kuat untuk melaksanakannya

Keempat  : Segera beramal

Kelima     : Melaksanakan dengan ikhlas

Keenam  : Waspada dari perkara yang membatalkannya

Ketujuh    : Tetap tegar dan istiqamah dalam menjalankannya

Sekarang marilah kita resapi bersama poin-poin penting di atas.

7 Perkara Penting Bagi Seorang Muslim
7 Perkara penting seorang muslim (Umma.is)

Inilah 7 Perkara Penting Seorang Muslim yang Harus Mendapatkan Perhatian

Pertama:[2]
BELAJAR DAN MENGILMUINYA

Inilah yang pertama yang wajib kita lakukan terhadap perintah Allah عزّوجلّ. Ketika Allah عزّوجلّ memerintahkan sesuatu, hendaknya seorang muslim mempelajari dan mengilmuinya terlebih dahulu. Oleh karenanya, Allah عزّوجلّ berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ketahuilah (ilmuilah), bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS Muhammad [47]: 19)

Allah عزّوجلّ memulai dengan ilmu sebelum amal. Jika seorang muslim tidak mempelajari apa yang Allah عزّوجلّ perintahkan dan yang Allah عزّوجلّ larang, bagaimana mungkin dia bisa mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkannya? Dahulu dikatakan, “Bagaimana akan bertaqwa orang yang tidak tahu bagaimana cara bertaqwa?!”[3]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh perjalanan dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan memudahkan jalannya ke surga.”[4]

Perhatikan pula do’a yang selalu dibaca oleh Nabi صلى الله عليه وسلم setiap selesai shalat Shubuh;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَرِزْقًا طَيِّبًا ، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.”[5]

Perhatikan hadits ini, dalam hadits ini Rasulullah صلى الله عليه وسلم memulai permohonan ilmu yang bermanfaat sebelum meminta rezeki dan amalan yang diterima, karena ilmu yang bermanfaat itulah pegangan seorang muslim dalam membedakan rezeki yang baik dan buruk, membedakan mana amalan yang baik dan tidak baik. Jika tidak punya ilmu, bagaimana bisa seorang muslim membedakan antara yang haq dan yang batil?? Allah عزّوجلّ berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'” (QS az-Zumar [39]: 9)

Contoh konkretnya, jika Allah عزّوجلّ memerintahkan kepada kita tauhid maka kita pelajari tauhid. Kebanyakan manusia mengetahui tauhid bagus, syirik jelek; akan tetapi, mereka tidak mendalami dan mempelajarinya!! Akibatnya, terkadang mereka melakukan amalan pembatal tauhid dan terjatuh ke dalam perbuatan syirik!!

Contoh lainnya, jika Allah عزّوجلّ melarang kita berbuat riba maka kita pelajari apa itu riba. Kita belajar dan bertanya kepada ahlinya. Jangan takut bertanya karena khawatir jawabannya tidak sesuai dengan selera kita!! Walhasil, ilmu yang bermanfaat adalah asas untuk segala aktivitas seorang muslim. Belajar dan terus belajar.

 

Kedua:
MENCINTAINYA

Apa maksudnya? Maksudnya adalah mencintai apa yang telah Allah عزّوجلّ turunkan berupa perintah, dan tidak membencinya. Kita menanamkan dalam hati kecintaan kepada Allah عزّوجلّ dan perintah-Nya, juga kecintaan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan perintahnya; bukan membencinya. Allah صلى الله عليه وسلم berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS Muhammad [47]: 9)

Maka kita upayakan diri untuk mencintai shalat, puasa, berbuat baik, sedekah, dan lainnya. Begitu pula hendaknya kita membenci keharaman serta perbuatan keji dan kotor. Inilah hakikat dari keimanan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ ، فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ

“Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, tidak memberi karena Allah maka sungguh dia telah sempurna imannya.”[6]

Inilah sikap seorang muslim yang benar ketika berhadapan dengan perintah Allah عزّوجلّ.

Ada sebagian orang yang hatinya tidak senang ketika diajak untuk perkara kebaikan. Dia tidak bahagia dengan amalan ketaatan, dadanya terasa sempit dengannya. Akan tetapi, jika diajak ke jalan kebatilan, perkara yang haram, yang menyenangkan jiwa, maka hatinya akan bahagia dan penuh semangat, jiwanya akan senantiasa mengikuti. Waspadailah, itu tandanya hati telah menyimpang!! Camkan firman Allah عزّوجلّ berikut ini:

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Artikel Menarik Wajib Anda Baca:  Muhasabah Jiwa Sebelum Kita Dipanggil Allah

“(Mereka berdo’a), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).'” (QS Ali Imran [3]: 8)

Adakalanya seorang hamba butuh usaha untuk memaksa dirinya agar hatinya penuh dengan kecintaan kepada Allah عزّوجلّ, agama-Nya, syari’at-Nya, dan segala perintah-Nya. Sebab, bila hal itu terwujud maka manusia akan selalu dalam kebaikan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu kecintaan-Mu, kecintaan orang-orang yang mencintai-Mu, dan kecintaan terhadap amalan yang bisa mendekatkan kepada kecintaan-Mu.”[7]

 

Ketiga:
TEKAD KUAT UNTUK MELAKSANAKANNYA

Sebagian manusia ada yang sudah punya ilmu terhadap perintah Allah عزّوجلّ, dia pun senang (dengan ilmu tersebut), tetapi lemah dalam melaksanakan perintah tersebut. Padahal, seharusnya dia tanamkan dalam dirinya keinginan kuat untuk melaksanakan perintah tersebut dan istiqamah di atasnya. Di antara do’a yang dipanjatkan Nabi صلى الله عليه وسلم adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ ، وَالعَزِيـمَةَ عَلَى الرُّشْدِ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ketetapan dalam suatu perkara dan keinginan kuat untuk meraih petunjuk.”[8]

Al-Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata, “Dua kalimat dari untaian do’a ini keduanya adalah pokok dari kebahagiaan, tidaklah seorang hamba luput dari kebahagiaan kecuali karena melalaikan kedua kalimat ini atau sebagiannya.”[9]

Sebagai contohnya, perintah shalat. Sebagian orang telah mengetahui kewajiban shalat. Dia pun mengetahui balasan yang baik bagi orang yang shalat dan ancaman bagi yang meninggalkannya. Akan tetapi, pengetahuannya tentang shalat tidak mendorong dirinya untuk bersemangat dalam pelaksanaan shalat. Hatinya lemah dan tidak punya tekad yang kuat dalam melaksanakan shalat. Demikian juga contoh yang lainnya, sebagian orang senang mendengarkan nasihat, ceramah keagamaan, tetapi sangat berat melaksanakan kandungan ceramah yang disampaikan!! Allah عزّوجلّ berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentu-lah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (QS an-Nisa’ [4]: 66)

Orang yang semacam itu biasanya malas dalam mengamalkan perintah Allah عزّوجلّ karena faktor dunia. Dia takut ditinggalkan pengikutnya, kedudukannya di mata masyarakat menurun, sehingga amalan sunnah yang sudah jelas asalnya dari Nabi صلى الله عليه وسلم ditinggalkannya karena takut dikucilkan manusia atau pengikutnya meninggalkannya!! Allahul Musta’an.

 

Keempat:
SEGERA BERAMAL, TIDAK MENUNDA-NUNDA

Apabila Anda telah mengetahui suatu perintah Allah عزّوجلّ, Anda pun senang dan bersemangat dengannya, maka segeralah kerjakan perintah tersebut, jangan menunda-nundanya. Segeralah beramal dan lakukan secara kontinu. Allah صلى الله عليه وسلم berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS Ali Imran [3]: 133)

Seorang muslim akan bersegera dalam mengamalkan perintah, tidak menunda-nundanya. Jika telah tiba waktu untuk melaksanakannya maka segera mengerjakannya. Contohnya shalat, jika telah masuk waktunya, segeralah shalat, jangan menunda-nunda hanya karena urusan dunia!!

Rasulullah صلى الله عليه وسلم ditanya, “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab:

الصَّلَاةُ على وَقْتِهَا

“Shalat pada waktunya.”[10]

Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim mewaspadai segala penghalang atau kesibukan yang bisa menghalangi dari mengerjakan amalan shalih. Waspadalah dari segala perkara yang bisa menghalangi ketaatan kepada Allah عزّوجلّ, karena tujuan asal dari penciptaan manusia adalah beribadah dan taat kepada-Nya! Allah عزّوجلّ berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS adz-Dzariyat [51]: 56)

Segeralah beramal ketika kebenaran dan perintah Allah عزّوجلّ telah jelas. Janganlah Anda menjadi orang yang rugi hanya karena mempertahankan prestise diri di mata masyarakat.

Renungkanlah kisah Hiraql (Heraklius), penguasa negeri Rum (Romawi), tatkala mengetahui kebenaran kenabian Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan dia membenarkannya, namun dia tidak masuk Islam karena para pengikutnya tidak setuju dan tidak menaatinya; akhirnya, karena takut kehilangan pengikut dia lebih memilih kekafiran daripada masuk Islam.[11]

Al-Imam Ibnul Qayyim رحمه الله mengatakan, “Sesungguhnya Hiraql sudah mengenal kebenaran dan sudah ada keinginan untuk masuk Islam akan tetapi kaumnya tidak mengikutinya, Hiraql takut kepada mereka, maka dia memilih kekafiran daripada Islam setelah jelas baginya petunjuk.”[12]

Artikel Menarik Wajib Anda Baca:  Alfatihtourcom

 

Kelima:
HARUS IKHLAS DAN MENCONTOH NABI

Seorang hamba ketika sudah mengetahui perintah Allah عزّوجلّ, mencintai dan mengamalkan, maka harus ikhlas dan mencontoh Nabi صلى الله عليه وسلم dalam amalannya. Karena, sebuah amalan tidak akan diterima Allah عزّوجلّ kecuali jika didasari keikhlasan dan mencontoh Nabi صلى الله عليه وسلم. Sangat banyak dalil-dalil yang menerangkan dua syarat ibadah ini, di antaranya ialah firman Allah عزّوجلّ:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS al-Mulk [67]: 2)

Fudhail ibn Iyadh menafsirkan ayat di atas dengan perkataannya, “Maksud ayat ini ialah yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan syari’at.” Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apakah maksud dari ‘paling ikhlas’ dan ‘paling sesuai dengan syari’at’?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya amalan apabila ikhlas tetapi tidak sesuai dengan syari’at maka tidak diterima, demikian pula apabila sesuai dengan syari’at tetapi tidak ikhlas maka tidak diterima, hingga amalan tersebut ikhlas dan sesuai dengan syari’at.”[13]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak termasuk urusan kami maka tertolak.”[14]

Berkata al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali رحمه الله, “Hadits ini secara konteksnya menunjukkan bahwa setiap amalan yang tidak ada perintah syar’i di dalamnya maka amalan tersebut tertolak. Sebaliknya, dapat dipahami pula bahwa setiap amalan yang ada perintahnya maka amalan tersebut diterima. Maksud ‘perintah’ di sini adalah agama dan syari’atnya.”[15]

Asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin رحمه الله berkata, “Ketahuilah bahwa mutaba’ah tidak akan terwujud kecuali apabila amalan itu sesuai dengan tuntunan syar’i pada enam perkara:

Pertama, Sebabnya. Hendaklah amalan itu sesuai pada sebabnya. Apabila ada yang melakukan ibadah karena suatu sebab yang bukan dari syari’at maka ibadahnya tertolak. Misalnya ada orang yang acap kali masuk rumah dia shalat dua raka’at dan menjadikannya sebagai sunnah maka amalan tersebut tertolak.

Kedua, Jenisnya. Misalnya ada orang yang berkurban dengan kuda, maka ibadah kurbannya tertolak tidak diterima, karena kurban dengan jenis kuda menyelisihi syari’at. Ibadah kurban hanya pada unta, sapi, dan kambing.

Ketiga, Kadar dan ukurannya. Misalnya seseorang berwudhu dengan membasuh setiap anggota wudhu empat kali, maka yang keempat tertolak, karena dia telah menambah kadar dan ukuran yang seharusnya (tiga kali).

Keempat, Tata caranya. Andaikan ada orang yang shalat dan ia sujud dahulu sebelum rukuk maka shalatnya batil tidak diterima karena ia tidak ikut tuntunan syari’at dalam tata cara ibadah.

Kelima, Waktunya. Andaikan ada yang shalat sebelum masuk waktunya maka shalatnya tidak diterima karena ia beribadah pada waktu yang tidak ditentukan oleh syari’at.

Keenam, Tempatnya. Andaikan seseorang melakukan ibadah i’tikaf bukan di masjid, semisal i’tikaf di sekolahan atau di rumah, maka i’tikafnya tidak sah karena tidak mencocoki syari’at dalam tempatnya.”[16]

Pahamilah kaidah emas ini, wahai para hamba yang beriman, karena akan sangat bermanfaat dalam kehidupanmu dalam membedakan amalan yang syar’i dan amalan yang tertolak. Wallahul Muwaffiq.

 

Keenam:
WASPADA DARI PERKARA
YANG MEMBATALKAN AMALAN

Para generasi salaf sangat takut kalau amalan mereka gugur dan batal, karena Allah عزّوجلّ berfirman:

أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ

“Supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS al-Hujurat [49]: 2)

Jika Anda sudah mengilmui sebuah perintah, telah mencintai, bersemangat dalam mengamalkannya, dan telah ikhlas dan mencontoh Nabi صلى الله عليه وسلم dalam beramal, maka waspadalah dari segala perkara yang bisa merusak amalan dan ibadah. Lihatlah gambaran al-Qur’an tentang hal ini:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS al-Mu’minun [23]: 60) [17]

Aisyah رضي الله عنها pernah bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم tentang ayat di atas, beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, bersedekah, shalat, dan mereka merasa khawatir tidak diterima amalannya.”[18]

Di antara pembatal amalan yang paling besar adalah kesyirikan. Perbuatan syirik bisa menghapus amalan dan membatalkannya. Allah عزّوجلّ berfirman:

Artikel Menarik Wajib Anda Baca:  Hak hak Istri Terhadap Suami Dalam Islam

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ . بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’ karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS az-Zumar [39]: 65-66)

Maka sudah menjadi kemestian bagi orang yang menghendaki amalannya diterima di sisi Allah عزّوجلّ untuk mentauhidkan-Nya, karena tauhid adalah hak Allah عزّوجلّ yang paling besar atas para hamba-Nya.[19]

 

Ketujuh:
TETAP TEGAR DAN ISTIQAMAH DALAM MENJALANKANNYA

Bila kita telah mengetahui agungnya sebuah amalan, maka tetaplah seperti itu, tegar di atas jalan kebenaran dan ketaatan, istiqamah di atas agama hingga maut datang menjemput. Mintalah selalu kepada Allah عزّوجلّ agar kita senantiasa dalam penjagaan Allah, senantiasa menjadi hamba yang taat. Allah عزّوجلّ berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS Ibrahim [14]: 27)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا

“Sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli Surga sehingga jarak antara dirinya dengan Surga hanya tinggal satu hasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli Neraka maka ia memasukinya.”[20]

Terakhir, berdo’alah agar kita tetap istiqamah, karena Allah-lah yang membolak-balikkan hati seseorang. Allah عزّوجلّ berfirman:

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“(Mereka berdo’a), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)” (QS Ali Imran [3]: 8)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم sering berdo’a:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”[21]

Allahu A’lam.[]

[1]    Ad-Durar as-Saniyyah fil Ajwibah an-Najdiyyah 2/74-75, cet. ke-7 1425 H.

[2]    Disarikan dari Ta’liqat ‘ala Risalah Wajibina Nahwa Ma Amaranallah Bihi, asy-Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin al-Badr dengan tambahan penting oleh penulis.

[3]    Ucapan Bakr ibn Khunais, dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 8/365.

[4]    HR Muslim: 2699.

[5]    HR Ibnu Majah: 925, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah: 753. Lihat pula ar-Raudh an-Nadhir: 1199.

[6]    HR Abu Dawud: 3681, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah No. 380.

[7]    HR at-Tirmidzi: 3235, dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Misykah No. 748.

[8]    HR ath-Thabarani dalam Mu’jam al-Kabir. 7136, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah No. 3228.

[9]    Miftah Dar as-Sa’adah 1/142.

[10]   HR al-Bukhari: 527, Muslim: 85.

[11]   HR al-Bukhari: 7, 4553.

[12]   Hidayah al-Hiyarifi Ajwibatil Yahudi wan Nashara hlm. 18.

[13]   Hilyah al-Auliya’ 8/95, Madarij ‘Ubudiyyah hlm. 26.

[14]   HR Muslim: 1718.

[15]   Jami’ul Ulum wal Hikam 1/177.

[16]   Lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah hlm. 98-100 oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin.

[17]   Maksudnya, orang-orang yang memberikan pemberian itu khawatir dan takut tidak diterima amalannya, karena mereka merasa telah meremehkan dalam mengerjakan syarat-syaratnya. (Tafsir Ibnu Katsir 3/234).

[18]   HR at-Tirmidzi: 3175, Ibnu Majah: 4198, Ahmad 6/159, al-Hakim 2/393, dihasankan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 162.

[19]   Berdasarkan hadits al-Bukhari: 128, Muslim: 30.

[20]   HR al-Bukhari: 3208, Muslim: 2643.

[21]   HR at-Tirmidzi: 2290, Ibnu Majah: 3834. Shahih, lihat Zhilal al-Jannah No. 225 oleh al-Albani.

======================================

Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman حفظه الله   Sumber Majalah Al-Furqon No.155 Ed.8 Th.ke-14_ 1436 H / 2015 M

Sumber: www.ibnumajjah.com