Rambu Rambu Berbakti Kepada Orangtua

Rambu Rambu Berbakti Kepada Orangtua

Berbakti Kepada Orangtua

Wahai para anak
Sungguh Allah telah jadikan manusia itu bersuku-suku, baik suku non Arab ataupun suku Arab supaya saling kenal. Kenalnya manusia itu dikarenakan sebuah ikatan, yang satu sama lain dari ikatan itu bertingkat- tingkat. Islam memiliki ikatan yang sangat luas. Ada juga ikatan yang lebih sempit, semisal ikatan kekerabatan, perkawinan, tetangga, persahabatan dan lain-lain.

Wahai para anak
Manusia mempunyai hak yang bertingkat-tingkat, dan tingkatan itu berbanding lurus dengan kuat dan dekatnya ikatan, atau lemah dan jauhnya ikatan. Islam mengaitkan sejumlah hak dan kewajiban dengan ikatan tersebut dan jenisnya. Islam memerintahkan untuk menyambung hubungan kekerabatan secara terus menerus, dan mengingatkan bahaya memutusnya. Sebagaimana islam menjadikan di antara hak ikatan tetangga adalah memuliakannya dan tidak boleh menghinanya. Wajib
berbuat baik kepada tetangga dan tidak boleh menyakitinya. Demikian adanya hak syuf‟ah (Hak syuf‟ah yang dimiliki tetangga : tidak boleh menawarkan tanah atau rumah sebelum tetangga ditawari terlebih dahulu. Menjual atau menawarkan kepada tetangga dahulu, baru jika tidak ada yang butuh bisa kita jual, kita tawarkan di facebook, koran dan lain-lain. Para tetangga menurut sebagian ulama, mereka memiliki ada hak syuf‟ah) bagi tetangga dan lain-lain.

Wahai para anak
Dan termasuk ikatan istimewa di antara manusia yang secara khusus islam berulang kali mengingatkannya, adalah ikatan anak dengan orangtua. Islam memotivasi agar manusia lebih memperhatikan ikatan ini
dibandingkan ikatan yang lainnya. Bahkan Islam memerintahkan untuk menyambungnya, dan berbuat baik kepada ikatan ini meski anak dalam kondisi yang paling sulit. Islam mengingatkan untuk tidak merusak orang-orang yang memiliki ikatan ini meski dengan kata-kata yang paling remeh. Ikatan yang menyatukan kita semua dengan asal-muasal kita, yang Allah jadikan dengan asal tersebut keberadaan kita di dunia ini. Itulah ikatan anak dengan ibu dan bapaknya.

Rambu rambu berbakti kepada orangtua
Rambu rambu berbakti kepada orangtua

Kewajiban Seorang Anak Berbakti Kepada Orangtua

Wahai para anak
Kedudukan orangtua itu sangat agung, hak orangtua begitu besar. Allah berfirman dalam QS. Al-Isra : 23-24

“Rabbmu telah menetapkan, janganlah kalian menyembah kecuali kepadaNya dan berbuat baiklah kepada orangtua, jika salah satu dari keduanya sampai kepada usia tua renta bersamamu wahai anak, maka jangan katakan kepadanya kata „uff‟. Dan jangan membentak keduanya, ucapkanlah kepada keduanya ucapan yang mulia. Ucapkanlah “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” (QS. Al-Isra : 23-24).

Maka orangtua yang sudah berusia lanjut, normalnya hidup dengan anak. Kata „uff‟ maknanya aku bosan dengan permintaanmu wahai bapak-ibu. Ayat Ini berisi larangan mengatakan „uff‟ kepada orangtua ketika mereka sudah tua. Tapi, bukan berarti jika orangtua masih muda boleh mengatakan demikian. Kenapa disebut „uff‟ secara khusus ketika keduanya sudah tua renta? Karena kata tersebut sangat-sangat menyakitkan. Lain halnya jika bapak-ibu itu masih gagah. Ketika bapak-ibu tidak bergantung kepada siapapun maka kondisinya berbeda. Namun, jika sudah tua ikut anak, di rumah anak, mendapat perlakuan semacam ini, dia tidak bisa apa-apa. Maka tentu ini suatu hal yang menyakitkan. Maka secara khusus, disebut mengucap „uff‟ ketika tua, ini tidak punya mafhum mukholafah. Artinya, bukan berarti sebelum tua renta boleh mengucapkan „uff‟. Tapi ini menjelaskan betapa jelekanya ucapan semacam ini ketika keduanya telah tua renta dan ikut anak.
Bertawadhu‟lah kepada keduanya karena sayang kepada keduanya, jangan sombong dihadapan bapak-ibumu. Dan bedoalah kepada Allah “Ya Allah sayangi orangtuaku karena keduanya telah merawatku ketika aku kecil.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

“Oleh karena itu Allah gandengkan ibadah kepada Allah, dengan berbuat baik kepada orangtua.

Allah berfirman,
“Dan berbuat baiklah kepada orangtua”(QS. Al-Isra : 23) Maka ayat ini semisal dengan ayat lain di QS. Lukman : 14ۥ ۥ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Lukman : 14)

Tentang ayat larangan berkata „uff‟,

“Jika salah satu dari keduanya sampai kepada usia tua renta bersamamu wahai anak, maka jangan katakan kepadanya kata „uff‟.” (QS. Al-Isra : 23). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan : “Jangan perdengarkan perkataan yang menyakitkan, sampai-sampai kata „uff‟.”

Jangan bentak keduanya, kata Ibnu Katsir rahimahullah maknanya : “Jangan engkau melakukan perbuatan yang menyakiti kedua orangtuamu”. Sebagaimana perkataan Atho‟ bin Abi Rabaah rahimahullah: “Jangan mengibaskan tangan di hadapan orangtua.” (Setelah Allah larang dari perbuatan buruk, maka Allah perintahkan anak untuk berbuat baik.)

“Katakanlah kepada keduanya, kata-kata yang mulia.” (QS. Al-Isra :23), yaitu kata yang lembut, menyenangkan, yang baik, yang itu diucapkan penuh rasa sopan, penuh penghormatan. (Hal ini boleh jadi beda antar masyarakat, beda zaman dll. Misal di Jawa, dengan bahasa jawa kromo, di tempat lain berbeda lagi).
Tawadhulah kepada orangtua dengan tindakanmu wahai anak, doakanlah ketika mereka sudah tua atau sudah meninggal dunia.

Wahai para anak.
Sungguh Allah telah berulang kali menyebutkan kedudukan orangtua. Mewajibkan berbuat baik kepada orangtua, dikarenakan istimewanya kedua orangtua, dan besarnya kebaikan orangtua kepada anak. Allah berfirman :

“Mereka bertanya kepadamu, apa yang diinfakkan, katakanlah semua kebaikan/harta yang kalian infakkan itu ditujukan kepada orangtua, kerabat, anak yatim, anak miskin dan ibnu sabil.” (QS Al-Baqoroh 215) Allah berfirman :

“Sembahlah Allah dan jangan kau sekutukan Allah dengan sesuatu apapun dan berbuat baiklah kepada orangtua.” (QS An-Nisaa 36) Allah berfirman:

“Marilah kubacakan apa yang diharamkan oleh Rabb kalian atas kalian, jangan sekutukan Allah dengan sesuatu apapun dan berbuat baiklah kepada orangtua.” (QS Al-An‟am 151)

Allah berfirman :
“Dan kami wasiatkan kepada manusia berbuat baik kepada orangtua terutama kepada ibunya, yang ibunya telah mengandungnya lemah dan letih, kemudian menyapihkan selama 2 tahun. Berterimakasihlah kepada Allah dan berterimakasihlah kepada kedua orangtua. Dan kepadaKu-lah kalaian akan kembali.” (QS. Lukman 14).

Kata „wasiatkan‟ dalam QS. Lukman : 14 adalah perintah yang ditegaskan. Tidak ada orang yang bisa berterimakasih kepada Allah dan berbakti kepada orangtuanya kecuali orang yang yakin dan sadar bahwa dia akan kembali menghadap Allah dan mempertanggungjawabkan amal perbuatanya. Siapa yang sadar dia akan kembali kepada Allah, dia akan jadi anak yang berbakti. Anak itu tidak akan jadi anak yang berbakti jika dia tidak kenal Allah, tidak tahu akhirat, tidak takut akan kembali menghadap Allah. Kunci penting berbakti adalah kesadaran bahwa kita semua akan kembali kepada Allah. Di antara tanda sadar akan kembali pada Allah, adalah sikap baik kita kepada kedua orangtua masing- masing.

Allah berfirman :
“Dan Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orangtuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan susah, dan melahirkannya dalam keadaan susah, selama 30 bulan.” (QS Al-Ahqaf:15).

30 bulan artinya 2 tahun ditambah 6 bulan. Minimal kelahiran disebut normal yaitu ketika usia janin 6 bulan. QS Al-Ahqaf 15 dijadikan dalil oleh sebagian ulama fiqih bahwa lahir normal minimal setelah janin berumur 6 bulan, mustahil ada bayi sehat, normal, lahir kurang dari 6 bulan.

Rahasia Rezeki Berbakti Kepada Orangtua (pesantren.id)
Rahasia Rezeki Berbakti Kepada Orangtua (pesantren.id)

Wahai para anak
Di antara agungnya hak orangtua yaitu wajib berbuat baik dan bersikap lembut kepada orangtua meskipun orangtuanya musyrik atau kafir (sedangkan anaknya adalah mukmin atau muslim). Meskipun tidak boleh taat kepada orangtua dalam maksiat kepada Allah.
Allah berfirman :
“Dan kami wasiatkan manusia agar berbuat baik kepada orangtuanya, dan jika kedua orangtuamu memaksamu untuk melakukan kemusyrikan maka jangan taat. Karena hanya kepadaKu tempat kembali kalian dan akan Aku beritahukan semua yang kalian lakukan.” (QS Al- Ankabut 8)

Allah berfirman :

“Dan kami wasiatkan manusia agar berbuat baik kepada orangtuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan susah, dan melahirkannya dalam keadaan susah, selama 30 bulan.” (QS Al-Ahqaf:15)
Ayat-ayat lain yang telah menyebutkan baik secara eksplisit maupun implisit yang menunjukan besarnya hak orangtua.

Adapun hadits-hadits terkait kepada orangtua sangatlah banyak. di antaranya :

Dari Abdullah bin Masud radhiyallahu „anhu :

“Aku bertanya kepada Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam , „Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah „azza wa jalla?‟ Beliau Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam  menjawab, „Shalat pada waktunya‟. Lalu aku bertanya, „Kemudian apa lagi?‟ Beliau Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam mengatakan, „Kemudian berbakti kepada kedua orangtua.‟ Lalu aku
mengatakan, „Kemudian apa lagi?‟ Lalu beliau Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam mengatakan,
„Berjihad di jalan Allah‟.”

Menunjukkan cinta Allah itu bertingkat-tingkat dan amal itu juga bertingkat- tingkat. Berbakti kepada orangtua lebih utama dari jihad, yang hukumnya fardhu kifayah.

Dari Abu Hurairoh radhiyallahu „anhu :

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu„anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam dan berkata, „Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan sikap baikku?‟ Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam menjawab, „Ibumu!‟ Dan orang tersebut kembali bertanya, „Kemudian
siapa lagi?‟ Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam menjawab, „Ibumu!‟ Orang tersebut bertanya kembali, „Kemudian siapa lagi?‟ Beliau Muhammad shalallahu alaihi wassalam menjawab, „Ibumu.‟ Orang tersebut bertanya kembali, „Kemudian siapa lagi,‟ Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam menjawab,
„Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).

Faidah tambahan :kata „paling berhak‟, menunjukkan semua orang berhak mendapat sikap baik dari kita, namun hak manusia dalam mendapat sikap baik kita itu bertingkat-tingkat. Maka yang ditanyakan kepada Nabi ﷺ adalah yang paling berhak. Allah berfirman : “Dan berkata baiklah kepada semua manusia” juga dalam hadits “Seorang muslim adalah yang muslim lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya” HR. Ahmad.
Ibu mendapat hak 3x lipat dari ayah, menimbang kesulitan ibu 3x lipat daripada ayah yaitu kesulitan hamil, kesulitan melahirkan dan kesulitan menyusui. Tiga hal yang tidak dialami ayah. Adapun dalam hal merawat dan mendidik, ayah dan ibu sudah sepantasnya bersekutu, berserikat. Meski di banyak keluarga, banyak suami yang masa bodoh dengan anak, tidak pernah memandikan, menggendong dll, seharusnya dalam masalah merawat adalah tanggungjawab bersama-sama. Orang yang celaka adalah dia yang pintu surga ada di depannya tapi dia tidak bisa memanfaatkannya dengan baik. Pintu surga tersebut adalah bakti kepada orangtua.

Berkata Imam Nawawi rahimahullahu :
“Yang dimaksud dengan adalah hina. Makna asal dari adalah hidung menempel kepada tanah, debu yang bercampur pasir. Ada yang mengatakan segala sesuatu yang menyakiti hidung. Isi hadits ini adalah motivasi untuk berbuat baik kepada orangtua dan besarnya pahala berbakti kepada orangtua. Makna hadits berbakti ketika keduanya tua renta dan lemah, dengan memberikan pelayanan, menafkahi dll adalah sebab masuk surga. Siapa yang teledor terhadap perkara ini, dia kehilangan kesempatan masuk surga, dan sungguh dia termasuk manusia yang hina.” (9 Diantara hal yang menjadi bentuk berbakti yaitu menafkahi orangtua yang miskin dan sudah tidak bekerja, anak wajib menafkahi. Memberi uang bulanan agar orangtua terpenuhi kebutuhan pokok hariannya.)

Dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma, dia berkata, “Seseorang mendatangi Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam , lalu dia meminta izin kepadanya untuk berjihad.”

Maka beliau Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Apakah kedua orangtuamu masih hidup?” Beliau berkata, “Ya.” Maka beliau ﷺ bersabda, “Berjihadlah dalam berbakti pada keduanya.” (HR. Bukhari, 4/18).

Jika orang yang mau jihad saja disuruh pulang, maka lebih-lebih lagi orang yang cari duit, kerja, meniti karir dll, lebih berhak disuruh pulang. Pulang ke kampung, temui bapak dan ibumu. Apa tujuan ke kota? cari duit? kerja dalam rangka ibadah? kalau tujuannya dalam rangka bekerja untuk ibadah dan cari pahala, maka ada cara lain yang lebih berpahala yaitu berbakti kepada orangtua. Jika yang cari mati syahid saja disuruh pulang, apalagi yang hanya cari duit. Ada ibadah yang lebih agung yaitu berbakti kepada orangtua.

Diriwayatkan dari Abu Daud :

Abdullah bin „Amr radhiallahu anhuma berkata: “Seseorang pernah mendatangi Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam, ia berkata: Wahai Rasulullah, sungguh aku datang ingin berjihad bersama, aku berharap wajah Allah dan kehidupan ahirat, dan aku telah datang dalam keadaan kedua orangtuaku benar-benar menangis?”, beliau ﷺ menjawab:
“Kalau begitu, kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka berdua tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka berdua menangis.”
HR. Ibnu Majah, Abu Daud dan An Nasai.(Hadits menunjukan bahwa anak yang durhaka kepada orangtuanya, melakukan tindakan yang membuat orangtuanya sampai menangis, tidak cukup dengan meminta maaf, namun ada kewajiban membuat mereka tertawa sebagaimana telah membuatnya menangis.
Bagian dari jihad adalah berbakti kepada orangtua, karena jihad maknanya juga demikian, susah payah untuk mencari ridho Allah. Dan berbakti kepada orangtua adalah hal yang susah payah, perlu nafas panjang, perlu sabar yang tidak ada habisnya, apalagi saat keduanya sudah tua renta. Ketika keduanya saat makan harus disuapi, saat mandi harus dimandikan dll, untuk bisa berbakti harus dengan nafas yang panjang dan sabar yang tidak pernah habis

Wahai para anak
Karena agungnya kedudukan kedua orangtua, para Nabi Allah „alaihimush sholatu wassalamu adalah manusia paling berbakti kepada kedua orangtua. Taat kepada kedua orangtuanya jika keduanya mukmin, sayang dan menginginkan kebaikan untuk keduanya jika keduanya non mukmin.
Allah telah kabarkan sebagian dari mereka, manusia-manusia pilihan. Bagaimanakah mereka menjadi sebaik-baik anak yang yang berbakti kepada orangtuanya. Lihatlah Nabi Nuh „alaihissalam dia khususkan doa untuk kedua orangtuanya agar dapat ampunan.

Dan sebagaimana telah Allah kabarkan :“ Nabi Nuh bedoa, wahai Rabbku ampunilah aku dan kedua orangtuaku, dan berilah ampunan kepada semua orang yang masuk ke dalam rumahku jika dia beriman, dan ampunilah semua mukmin dan mukminat.” (QS. Nuh 28).
Ini dalil ibu bapak Nabi Nuh „alaihissalam itu beriman sedangkan anaknya kafir.

Dan sebagaimana telah Allah kabarkan keadaan Nabi Isa „alaihissalam :

“Isa yang saat itu baru saja lahir berkata „Aku adalah seorang anak yang berbakti kepada Ibuku, dan Allah tidak menjadikanku orang yang sombong dan celaka‟.” (QS Maryam :32)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan : “Perintah berbakti kepada orangtua disebutkan setelah ketaatan kepada Allah, karena Allah sering menggandengkan ketaatan kepada Allah dan berbakti kepada orangtua.” Dan inilah keadaan Nabi Isa „alaihissalam kepada ibunya. Kemudian, inilah bakti Nabi Yahya „alaihissalam kepada kedua orangtuanya.

Allah berfirman : “Dan Yahya adalah seorang anak yang berbakti kepada orangtuanya, dan dia bukanlah orang yang sombong dan durhaka.” (QS. Maryam 14)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan : “Setelah disebut ketaatan kepada Rabb, kemudian Allah ciptakan Yahya sebagai orang yang penyayang, yang bersih dan bertakwa, Allah sambungkan dengan menyebut ketaatan Yahya kepada orangtuanya dan bakti Yahya kepada keduanya. Yahya adalah anak yang menjauhi perilaku durhaka baik dengan ucapan atau perbuatan. Berkaitan dengan durhaka dengan perintah orangtua atau larangan kedua orangtua.”

Wahai para anak…
Adapun keadaan kekasih Allah, yaitu Ibrahim „alaihissalam bersama ayahnya, dan bagaimanakah Ibrahim „alaihissalam mendakwahi ayahnya dan upaya Ibrahim „alaihissalam untuk mengambil cinta ayahnya. Itulah salah satu upaya bakti yang sampai kepada puncaknya, penuh kasih sayang yang sampai kepada puncak, padahal bapaknya adalah orang kafir.

Allah berfirman dalam QS. Maryam 41-45
41. Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.

42. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?

43. Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.

44. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.

45. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”.

Qodhi Abu Su‟ud rahimahullahu mengatakan terkait dialog antara Ibrahim „alaihissalam dengan ayahnya. “Sungguh Ibrahim telah menempuh jalan yang terbaik dan jalan yang paling lurus. Beliau „alaihissalam gunakan alasan di depan ayahnya dengan argumen yang paling indah dan itu diiringi adab yang baik, tujuannya agar ayahnya tidak memilih sikap sombong dan keras kepala.”
Kemudian, Ibrahim mengajak ayahnya supaya mengikutinya agar Ibarahim bisa menunjukan kebenaran yang nyata kepada ayahnya. Karena ayahnya tidak mendapat keberuntungan berupa ilmu yang datang dari Allah, secara mandiri karena memiliki pandangan yang benar.
Ibrahim itu membuka dakwah kepada ayahnya dengan kalimat yang mengambil hati dan simpati ayahnya. Sebagaimana Allah berfirman :
“Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu” (QS. Maryam : 43)

Ibrahim tidak melabeli bapaknya dengan kebodohan yang keterlaluan, meskipun bodohnya keterlaluan (patung dibuat dan disembah sendiri, itu kebodohan yang keterlaluan). Dan Ibrahim tidak melabeli dengan ilmu yang unggul meskipun demikian adanya. Dalam kalimat ajakan kepada ayahnya ini, Ibrahim menempatkan diri sebagai kawan, padahal realitanya Ibrahim jauh lebih tinggi, lebih mulia, lebih berilmu daripada ayahnya.” (12 Lihat diksi yang dipakai Ibrahim „Aku mendapat ilmu yang tidak kau dapatkan‟ tidak meggunakan diksi „Aku berilmu dan engkau bodoh wahai ayahku‟, padahal sama saja, tapi nilai rasanya beda mengatakan „tidak dapat ilmu‟ dan „bodoh‟. )

“Adapun Nabi kita, Muhammad Muhammad shalallahu alaihi wassalam dalam masalah bakti, beliau adalah manusia yang sangat menakjubkan. Buktinya beliau sangat sayang kepada pamanya, selalu membersamai Abu Thalib. Dan mengupayakan agar pamanya (sebagai ganti bapaknya yang sudah meninggal) cinta dengan dakwah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam , Beliau Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam gunakan kata dengan sebaik-baik kata-kata, hingga menjelang ajalnya beliau Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam berkata :

“Wahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallah, kalimat yang aku jadikan bukti untuk membela paman di hadapan Allah.”

Dan ini bentuk bakti kepada pamanya yang paling besar, mendakwahi hingga menjelang ajalnya. (Bakti yang paling bakti adalah mendakwahi tauhid kepada orangtua. Memegang tangan orangtua dan membawanya ke jalan kebaikan, namun ingat! dengan tutur kata yang lembut, penuh penghormatan.)

Wahai para anak….
Dikarenakan permasalahan berbakti kepada orangtua adalah masalah yang penting, banyak perkataan ulama tentang masalah ini. Mereka bahkan menulis buku secara khusus. Cukuplah sebagai bukti dalam kitab-kitab keutamaan amal, kitab jami‟, kitab khusus akhlak, yang memiliki bab khusus tentang berbakti kepada orangtua. Ada ulama yang menulis satu buku khusus tentang orangtua yaitu Ibnul Jauzy al-hambali rahimahullah, bukunya berjudul “Al-Birr wa Shillah”. Imam Bukhari rahimahullah, memiliki buku “Birrul Walidayn” yang mengumpulkan hadits-hadits tentang bakti kepada orangtua.

Ibnul Jauzy rahimahullah, mengatakan :
“Aku melihat anak muda di zamanku, mereka tidak peduli dengan masalah berbakti kepada orangtua. Mereka tidak berpandangan bahwa berbakti kepada orangtua adalah sebuah keharusan, sebagaimana membayar hutang. Saya jumpai mereka bersuara keras kepada orangtua mereka, seakan-akan mereka tidak meyakini bahwa mentaati orangtua adalah wajib. Mereka putus hubungan yang Allah perintahkan untuk disambung, yang Allah telah jelaskan dalam Al-Quran dan Allah telah larang dengan larangan paling keras. Bahkan mereka respon perintah berbakti kepada orangtua dengan memboikot orangtua dan bersuara keras di hadapannya.” (Semua dalil wajibnya menjalin silaturahim adalah dalil wajibnya berbakti kepada orangtua, karena shillah yang paling shillah, kerabat yang paling dekat adalah orangtua.)

Setelah itu Ibnul Jauzy rahimahullahu membawakan sejumlah dalil dan riwayat dari salaf mengenai berbakati dengan orangtua. Kemudian Ibnul Jauzy rahimahullahu berkata “Anak yang berbakti kepada orangtua hendaknya menyadari bahwa betapapun anak itu berbakti kepada orangtua, tetap saja belum bisa membalas kebaikan orangtua.”

Dari Zurah bin Ibrahim, ada laki-laki yang mendatangi Umar radhiyallahu „anhu berkata : “Wahai amirul mukminin, saya punya seorang ibu, yang dia sudah tua renta. Sesungguhnya ibuku tidak bisa memenuhi hajatnya kecuali punggungku adalah kendaraanya.” Artinya, dia gendong ibunya, ibunya pingin ini, pingin lihat itu, pingin beli ini, pingin ke pasar dll, digendong sama anaknya. Bukan hanya didorong dengan kursi roda, tapi digendong.
Laki-laki itu berkata : “Aku yang mewudhukannya dan wajahku kupalingkan darinya.” (Anak tersebut memalingkan muka karena anak tetap tidak boleh melihat aurot ibunya sendiri. Ketika ibunya butuh berwudhu dan perlu cebok, terlebih dahulu si anak menceboki sambil memalingkan mukanya agar tidak melihat aurot ibunya. Itu kesehariannya.).

Laki-laki itu berkata : “Wahai amirul mukminin, apakah aku telah menunaikan kewajibanku, telah membalas hak ibukku?”
Jawaban Umar : “BELUM”
Si Anak mengatakan : “bukankah aku telah menggendongnya kepada punggungku, dan aku menahan diriku hanya untuk mengurusi ibuku.” (17 Dia tidak kerja, kerjaanya hanya mengurusi ibu, habastu nafsi „alaiha, „aku menahan diriku hanya untuk melayaninya‟. Ibunya tidak ditinggal ke kantor, ditinggal cari duit dll, tidak. Seharian dia menunggu ibunya, ibunya ingin apa, ingin kemana. Ini adalah anak yang totalitas mengurusi ibunya. Tidak kemudian menyuruh pembantu, tidak. Dia tidak kerja. Bayangkan! هيلع سفن تسبح habastu nafsi „alaiha, aku full time mengurus ibuku, aku fokus mengurusi ibuku wahai amirul mukminin.)
Umar katakan : “Ibumu dulu juga berbuat demikian saat kamu bayi, dengan harapan agara kamu berumur panjang.”
Namun berbeda! (Ibumu tidak bisa pergi jauh-jauh, kemana-mana harus bawa bayi, mau ke pasar bayinya tidak bisa ditinggal, mau mandi, mau ke toilet tidak bisa lama-lama. Ibumu juga full time mengurusi kamu namun beda niat ibumu dan niatmu.)
Umar katakan :
Dan kau wahai anak berbuat demikian kepada ibumu tapi dalam keadaan kau berangan-angan kapan segera matinya! (Ibumu full time mengurusi dirimu dengan angan-angan semoga umurmu panjang, semoga sampai gedhe. Dan kau wahai anak berbuat demikian kepada ibumu tapi dalam keadaan kau berangan-angan kapan segera matinya! kapan bebas merdeka, kapan kemana-mana bebas tanpa gendong ibu, dll. Perbuatan yang sama itu nilainya beda karena amal hati, betapa mulianya amal hati, betapa pentingnya amal hati. Perbuatan sama tapi amal hati beda hasilnya kontras berbeda. Lain halnya keadaan ibu, ketika kita sakit saat masih bayi, yang dipikir bagaimana anak ini berumur panjang.)

Kisah lain, ada laki-laki datang menemui Ibnu Umar radhiyallahu „anhumaa dia katakan : “Kugendong ibuku di pundakku, dari Khurosan (sekitar Afganistan), jalan sampai Mekkah. Aku gendong ibuku untuk menunaikan manasik haji.”

Menggendong ibu, bukan hanya mendorong kursi roda dinaikan pesawat. Bayangkan!, amal yang luar biasa. Aku gendong ibuku manasik haji. Thawaf, ke Arafah, Mina, Musdalifah dll, digendong terus, tentu setelah haji, ibunya tidak ditinggal di Mekkah begitu saja, pasti harus dibawa pulang. Kendaraanya apa? punggung anaknya, digendong! Ini tinggal mimpi, ada anak seperti ini di zaman ini. Ini tinggal cerita yang tertulis di kertas. Mana ada anak yang berbakti hingga seperti ini? Ibunya ingin haji, digendong jalan kaki.

Dia berkata : “Apakah engkau punya sangkaan wahai sahabat Nabi, bahwa aku telah membalas kebaikan ibuku?” (Hal yang ditanya hanya sangkaan saja, tidak sampai derajat yakin, apakah aku sudah berbakti?)
Jawaban Abdullah bin Umar radhiyallahu „anhuma : Belum! Kamu belum membalas ibumu! Meskipun erangan satu erangan ketika dia melahirkanmu”

Ibnul Jauzy rahimahullahu mengatakan :
“Bentuk berbakti kepada orang tua adalah dengan taat kepada keduanya selama itu tidak haram, mendahulukan permintaan keduanya daripada ibadah sunnah, mejauhi apa yang dilarang keduanya, menafkahi keduanya, dan bersengaja mencari-cari apa yang diinginkan keduanya.”(Bapak itu suka makanan ini, itu yang dicari, Ibu suka buah itu, itu yang dicari. itu yang diberikan.)

“Maksud berbakti adalah mubalaghoh, betul-betul totalitas melayani, punya sopan santun kepada keduanya, hormat kepada keduanya. Jangan bersuara keras di hadapanya, jangan membentak di hadapanya, jangan melotot kepada keduanya, jangan panggil langsung namanya, berjalanlah di belakangnya. Ini satu hal yang penting, bersabar dengan semua yang tidak nyaman dari keduanya.”

Banyak anak bisa berbakti kepada kedua orang tuanya membelikan ini dan itu, berbuat baik ini dan itu, tapi banyak anak yang tidak punya sabar dengan tindakan dan ucapan, serta sikap yang tidak mengenakkan dari orang tuanya.
Katakan Aaaamin.

Wahai para anak…
Bahasan yang telah lewat mengenai berbakti kepada orangtua adalah salah baru sedikit penjelasan dari yang semestinya yang banyak. Terdapat banyak dalil-dalil syari‟at yang menegaskan tinggi dan agungnya kedudukan orangtua.
Kesimpulannya : berbakti kepada orangtua adalah salah satu bentuk amal yang mendekatkan diri kepada Allah yang luar biasa. Orang-orang berlomba untuk bisa mendapatkannya. Adalah para Nabi dan Rasul utusan Allah, mereka adalah orang yang terdepan di antara orang yang berlomba berbakti kepada orangtua. Allah telah kisahkan keadaan sebagian mereka, tentang kasih sayang mereka dan bakti mereka, dan perbuatan mereka kepada kedua orangtuanya.
Bakti kepada orangtua adalah kunci segala kebaikan dan penutup segala keburukan. Bakti kepada orangtua berarti taat kepada Allah dan taat kepada NabiNya . Perilaku berbakti kepada orangtua adalah hutang, yang akan jadi simpanan bagi orang yang berbakti kepada orangtuanya. Anak yang berbakti, kelak dia akan melihat buah dari
baktinya telah menjadi buah yang matang pada diri anak keturunannya, maka dirinyapun sejuk dan senang karenanya, lapang dadanya, bahkan diapun menyesal kenapa tidak melipat gandakan baktinya kepada orangtuanya, karena dia melihat bakti anak-anaknya kepada dirinya.

Perilaku kepada orangtua adalah hutang. Siapa yang berbakti kepada orangtua Allah akan datangkan kepadanya anak-anak yang berbakti untuk dirinya. Siapa yang durhaka kepada kedua orangtuanya, Allah akan jadikan anaknya durhaka kepada dirinya. Anak yang berbakti akan menyesal ketika dia melihat anak-anak keturunanya berbakti kepadanya, mengapa dulu tidak melipatgandakan baktinya kepada kedua orangtuanya.

Wahai para anak…
Maka cincingkanlah lengan bajumu, bersegeralah menuju dan mendekat kepada orangtuamu, pasang pendengaranmu baik-baik untuk mendengarkan keduanya, tawadhu‟lah kepada keduanya, dan doakan keduanya Dan ketahuilah, -semoga Allah menjagamu-, betapapun engkau melakukan upaya untuk berbakti kepada orangtua, dan betapapun yang engkau lakukan, engkau tidak akan mampu membalas kebaikan keduanya. Bagaimanakah mungkin engkau bisa membayar hutangmu kepada kedua orangtuamu padahal keduanya melipatgandakan hutang keduanya kepadamu dengan medoakan dirimu, khawatir dengan kondisimu dan rasa cinta kedua orangtuamu kepada dirimu.

Maksud dari melipatgandakan hutang keduanya kepadamu adalah, dengan bentuk meskipun dia sudah tidak merawatmu, dia senantiasa mendoakan kebaikan untukmu, senantiasa mengkhawatirkan dirimu. Sudah tidak lagi merawat, sudah lain rumah, sudah lain tempat tinggal, namun dia senantiasa khawatir dengan keadanmu, senantiasa mendoakanmu wahai anak.

Wahai para anak…
Sesungguhnya kedudukan kedua oangtua itu agung sekali, bagaimana tidak agung, sungguh keduanya lebih memilih merelakan kenyamanan keduanya untuk dirimu. Keduanya sakit gara-gara engkau sakit, keduanya sedih ketika engkau bersedih, bahkan keduanya tidak bisa memejamkan mata, sampai anaknya yang masih kecil itu bisa memejamkan mata, dan baru kemudian dia bisa memaksakan dirinya untuk tidur – Setelah anaknya terlelap tidur barulah bapak-ibunya bisa tidur.
Cukuplah bagimu sebagai indikator besarnya jasa kedua orangtuamu, adalah derivat dari cinta keduanya untuk mu, dimana mereka mengorbankan diri, bahkan mereka lupa bahwa keduanya sakit, dan mereka tinggalkan hal-hal yang membahagiakan keduanya. Itu semua dalam rangka agar anak senang, dan supaya engkau nyaman.

Ibu melupakan sakitnya. Dia sakit tapi dia tidak bilang kalau dia sakit. Dia lapar tapi dia tidak bilang kalau dia lapar. Semata-mata supaya anaknya senang, supaya anaknya kenyang, nyaman. Demikian pengorbanan orangtua kita kepada anaknya masing-masing.

Seorang penyair megatakan :

Ibumu punya hak yang seandainya engkau tau dia adalah hak yang sangat banyak
Sehingga baktimu yang banyak wahai fulan, maka itu sedikit jika dibandingkan kebaikan ibumu
Betapa banyak malam yang dilalui ibu dengan beban beratmu (hamil)
Yang dia sakit karenanya, dari dirinya erangan demi erangan
Ketika melahirkan, seandainya engkau mengetahui betapa derita ibumu.
Karena deritanya, maka hati itu seakan-akan terbang (saking sakitnya)

Betapa seringnya dia bersihkan kotoranmu dengan tangan kanannya, dan tidaklah pangkuannya adalah kecuali bagaikan tempat tidur untukmu
Dia tebus dirimu dengan sakit yang kau adukan
Dan buah dadanya adalah minuman untukmu
Dan berapa kali ibu lapar namun dia berikan kepadamu makanannya karena sayang dan karena cinta, ketika engkau masih kecil.

Tentang kedua orangtua :

Sungguh hutang keduanya itu meliputimu selama keduanya memberikan kepadamu cinta yang murni
Ketika keduanya melihat sakit pada dirimu
Keduanya cemas karena engkau sakit dan sakitmu itu menjadi beban berat keduanya
Ketika keduanya mendengar eranganmu, bercucuranlah air mata keduanya
Karena sedih, dan erangan mu itu beban berat keduanya. Keduanya berangan-angan seandainya keadaanmu adalah
keadaan yang nyaman,
Dengan mengorbankan semua apa yang dimiliki oleh keduatangannya (rela mengorbankan semua harta supaya engkau
merasakan kenyamanan).
Sungguh engkau adalah beruntung jika melakukan hal yang baik
Dan engau tunaikan sebagaian dari hak keduanya.

Wahai para anak…
Meskipun banyak dalil dan riwayat yang menunjukkan besarnya kedudukan orangtua, namun setan mendapati jalan nyaman untuk menggoda sebagian manusia. Betapa menakjubkan kedudukan kedua orangtua, namun betapa mengherankan sikap anak kepada orangtua. Sungguh menakjubkan keadaan seorang ibu yang perutnya menjadi wadah untuk anaknya dan buah dadanya jadi minuman anaknya. Dia sakit karena sakit anaknya. Dia gembira karena gembiranya anaknya.
Betapa menakjubkan keadaan ayah, malam dan siang mencari rezeki, mencari tempat tinggal. Anak-anaknya menangis ketika membutuhkan sesuatu. Ayah tidak bisa merasa senang. Hatinya tidak bisa tenang sampai bisa memenuhi hajat anak-anaknya semaksimal kemampuan yang bisa ayah berikan.
Subhannallah, betapa menakjubkan perlakuan, kasih sayang orangtua. Seakan-akan orangtua adalah naungan untuk anak. Dia bergerak untuk anaknya. Diapun tenang karena tenang anaknya. Namun ada yang lebih mengherankan dari itu semua, keheranan yang tidak pernah habis, yaitu sikap anak yang tidak mengakui kebaikan orangtua, menutupi kebaikan orangtua, dan sikap keras kepada orangtua dan sikap lain yang lebih jelek.

Wahai para anak…
Betapa banyak orang mendengar, membaca dan meyaksikan bentuk- bentuk durhaka baik dengan kata-kata atau perbuatan, yang itu menyebabkan dahi berkenyit. Membuat jantung dan hati itu terasa pilu karena melihat hal ini.
Ada ibu yang dihinakan, ada bapak yang dipukuli, dan ada orangtua lainya yang dibuang di panti jompo. Kita berlindung kepada Allah dari hal yang memalukan di dunia dan di akhirat.Ya Allah jagalah kami dari kejelekan jiwa kami dan dari kejelakan setan. Ya Allah berikanlah kepada kami rasa terimakasih terhadap nikmatMu. Jadikanlah kami oang orang yang beramal sholih yang Kau ridhoi, dan perbaikilah anak keturunan kami.
Ya Allah jadikanlah kami anak-anak yang berbakti kepada orangtua. Ya Allah jadikanlah kami sebab lapangnya hati mereka, dan sebab gembiranya mereka.

Wahai anak yang durhaka, atau orang yang menimpakan kepada keduanya tindakan yang menyakitkan, tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam dirimu? Tidakkah engkau lihat ketika seseorang berbuat baik kepadamu, yang sebenarnya engkau tidak dalam kondisi sangat membutuhkan kebaikan orang tersebut. Tidakkah engkau melihat orang yang berbuat baik kepadamu tersebut sudah mengalungkan pada lehermu kalung hutang budi? Yang kalung hutang budi itu mengingatkanmu kepadanya. Engkau berterimakasih karena kebaikannya, dan kau antusias membalas hutang budi itu, padahal itu orang lain.
Bagaimana jika seandainya kau darurat dan sangat membutuhkan kebaikannya, lantas dia berbuat baik kepadamu dengan gembira. Tidakkah orang tersebut menawanmu karena kebaikannya, padahal itu hanya satu kebaikan. Boleh jadi dirinya tidak minat menolongmu, tapi kamu tidak punya tempat menghindar kecuali mengakui kebaikannya dan memberikan balasan terimakasih kepadanya.
Betapa mengherankan wahai anak yang durhaka, kau berterimakasih setiap pagi dan sore kepada orang yang sekali saja bebuat baik kepadamu, tapi ada gunung kebaikan dari orangtuamu yang kau tutupi, yang kau tidak akui jasanya. Inilah sikap aneh anak yang durhaka.

Orang lain berbuat satu kebaikan dikenang-kenang, terimakasih pagi dan sore, sedang ada kebaikan sebesar gunung dari orangtua, malah terlupakan.

Wahai para anak…
Sungguh satu hal yang sangat jelek untuk didengar, untuk dilihat dan dibaca, sikap mereka anak-anak yang sombong yang mengingkari kebaikan kedua orangtua. Durhakanya anak itu bertambah jelek ketika anak durhaka itu adalah anak yang rajin sholat jumat dan sholat jamaah.
Wahai anak yang rajin sholat, tidakkah engkau bertakwa kepada Allah berkenaan dengan orangtuamu? Tidakah engkau memikirkan kedudukan keduanya? Tidakkah sholatmu mencegah dirimu untuk berbuat jelek kepada keduanya. Ingat, telah beruban kepala keduanya karena telah tua dan sedih, karena keduanya melihat engkau mengingkari hak dan kebaikan keduanya.
Kedua orangtua itu merasa hancur, lantas berusaha menghibur diri. Keduanya telah diberi makan kedurhakaan yang lebih pahit dari tumbuhan yang pahit berkali lipat. Moga Allah balas kesabaran mu wahai bapak dan ibu, dan memperbesar ganjaran untukmu atas musibah yang menimpamu karena kedurhakaan anakmu.
Wahai anak yang durhaka, engkau akan menjadi orang yang akan ditelantarkan. Engkau adalah orang yang tertipu. Engkau tidur lelap sepenuh dua kelopak matamu dan kau tinggalkan kedua orangtuamu dalam keadaan lemah dan mereka meneguk kedurhakaan dari dirimu yang itu jadi ganjalan di tenggorokannya. Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan di dunia dan adzab di akahirat.

==================================

Sumber buku :

Rambu-Rambu Berbakti Kepada Orangtua

Terjemah dari

Kitab Ma’aalim fii Birril Walidayn

Karya Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan hafizhahullahu

Terjemah dan catatan kaki dari guru kami Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I. hafizhahullahu

Dalam kajian Pesantren Liburan YPIA Sabtu, 16 Jumadal Uula 1441H – 11 Januari 2020

di Masjid Pogung Dalangan, Pogung Dalangan, Sleman, Yogyakarta

Muraja’ah oleh : Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I. hafizhahullahu

Transksrip dan Layout oleh : Ratna A Arilia Y

Diterbitkan oleh : At-tadzkirah.blogspot.com